- Judul: Branchless Banking dan Rahasia Sukses Agen Bank: Satu Model Pengembangan Bisnis Bank di Era Digital
- Penulis : DR Ir Osbal Saragi Rumahorbo MM
- Jumlah: 226 Halaman
- ISBN : 978-979-8338-34-2
- Penerbit : Infobank Publishing, Cetakan Pertama Mei 2026
TAHUN 2025 adalah tahun penuh tantangan bagi dunia usaha. Depresiasi nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per USD membawa dampak yang berat bagi keuangan negara, perusahaan, hingga individu. Industri perbankan tak luput dari apa yang terjadi di pasar uang hingga sektor riil. Agar pertumbuhan dan profit terus sustainable dan market share terjaga atau meningkat di tengah dinamika ekonomi dan landscape perbankan yang makin ketat persaingannya, maka bank harus memperhatikan aspek daya saing, keuangan yang efektif, operasional yang efisien, dan human capital.
Transformasi teknologi adalah salah satu cara untuk membangun sistem operasi yang efisien dan efektif. Namun, tak semua transformasi digital berhasil. Begitu juga cara bank menjalankan sistem keagenan atau perbankan tanpa cabang (branchless banking) untuk mengurangi biaya investasi dan operasional di cabang. Tak semua agen branchless banking bank-bank terus tumbuh dan berkembang. Daya juang agen dan kualitas mereka dengan masyarakat termasuk kemampuan mengatasi persoalan-persoalan yang ada menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan sistem keagenan.
Rahasia sukses sistem keaganen bank ditulis secara mendalam oleh DR Ir Osbal Saragi Rumahorbo MM., dalam bukunya Branchless Banking dan Rahasia Sukses Agen Bank; Satu Model Pengembangan Bisnis Bank di Era Digital, yang diluncurkan di Indonesia Digital Forum yang digelar Infobank Media Group bersama iSentia, di Jakarta pada 22 Mei 2026.

Buku yang terdiri dari 226 halaman yang terangkum dalam sembilan bab ini mengupas dinamika industri perbankan di era teknologi dan perkembangan sistem keagenan sebelum masuk ke hasil penelitian komprehensif terhadap BRILink atau agen bank yang dikembangkan di Bank Rakyat Indonesia (BRI).
BRI dipilih sebagai model branchless banking dan agen BRILink sebagai objek penelitian dikarenakan BRI memiliki keunikan, yang ikut melatarbelakangi keberhasilannya di pasar keuangan mikro dan sukses dalam pengembangan branchless banking. Sejauh ini hanya BRI yang berhasil menjadikan sistem keagenan sebagai pilihan utama untuk menumbuhkan fee based income.
Di halaman 82, Osbal menyajikan data di mana BRI menjadi bank dengan agen terbanyak di Indonesia. Pada 2025, bank ini tercatat memiliki sekitar 1,19 juta agen BRILink yang tersebar di lebih dari 66.098 desa, atau setara 80 persen dari total desa di Indonesia.
Sepanjang 2025, agen BRILink total memfasilitasi lebih dari 1 miliar transaksi, dengan total volume mencapai Rp1.820 triliun. Dari transaksi agen BRILink, BRI mengantongi fee based income sebesar Rp1,71 triliun. Dengan komposisi sharing fee 50:50, artinya agen paling tidak menerima jumlah yang sama dengan yang diterima BRI.
Menariknya, di balik keberhasilan agen BRILink, terdapat temuan mengenai kuatnya unsur militancy. Militancy yang menurut Schutt (1982), adalah tindakan konfrontatif dan konflik terorganisasi dengan manajemen untuk mendukung suatu tujuan, ternyata bisa bermanfaat untuk bidang usaha apabila dikelola dengan baik oleh para pemimpin bisnis.
Dan hasil penelitan yang dilakukan Osbal Saragi menunjukkan bahwa militancy dipadu dengan entrepreneurship yang dimoderasi dengan customer focus akan menghasilkan performance yang baik dan sustainability. Agen yang fokus pada pelanggan akan mampu lebih memahami customer need dan mampu menciptakan pengalaman (experiences). Dengan pengalaman yang diraihnya, maka agen menjadi lebih adaptif, lebih responsif, resilien, bisa menyelesaikan masalah, dan lebih dipercaya masyarakat.
Buku yang diterbitkan oleh Infobank Publishing ini bukan sekadar teori dan pengamatan terhadap perkembangan bisnis perbankan yang penuh dinamika perekonomian di era teknologi. Tapi berdasarkan pengalaman panjang penulis sebagai profesional di industri perbankan serta hasil riset komprehensif yang dilakukan untuk membuktikan beberapa fenomena yang terjadi di dunia perbankan.
Osbal Saragi yang kini menjadi pengusaha sebelumnya pernah menjadi Direktur di BRI kemudian juga di Bank Negara Indonesia (BNI). Osbal meraih gelar S1 dari Universitas Padjajaran pada 1989, kemudian menyelesaikan S2 di Universitas Sumatera Utara dengan konsentrasi Manajemen Akuntansi dan lulus cum laude pada 2011. Program Doktor (S-3) diselesaikannya di Universitas Brawijaya dan lulus pada 2021 sebagai lulusan terbaik. (*)


