Poin Penting
- Rupiah menguat 0,89 persen ke Rp17.942 per dolar AS, sedangkan IHSG naik 4,24 persen ke level 6.176.
- Pasar obligasi mencatat foreign inflow Rp4,6 triliun dengan imbal hasil ID10Y naik tipis ke 7,26 persen.
- Sejumlah sentimen domestik dan global menjadi perhatian pasar, termasuk peringkat utang Indonesia, aturan HSC BEI, dan perubahan metodologi MSCI.
Jakarta – Syailendra Research merangkum pergerakan pasar keuangan Indonesia sepanjang pekan lalu. Nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan pasar saham tercatat bergerak positif.
Rupiah menguat 0,89 persen ke level Rp17.942 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) turun tipis 0,2 persen ke level 100,57.
Dari pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 4,24 persen sepanjang pekan lalu ke level 6.176. Kenaikan tersebut disertai net foreign buy atau aliran dana asing masuk sebesar Rp197 miliar.
Baca juga: IHSG Sepekan Menguat 4,24 Persen, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
Sementara itu, mayoritas indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah. Nasdaq turun 1,2 persen dan S&P 500 terkoreksi 0,1 persen. Sebaliknya, Dow Jones naik tipis 0,1 persen
Pasar Obligasi Catat Foreign Inflow Rp4,6 Triliun
Dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (ID10Y) meningkat tipis ke level 7,26 persen. Kondisi tersebut diikuti arus dana asing masuk atau foreign inflow sebesar Rp4,6 triliun sepanjang pekan lalu.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US10Y) kembali turun tipis dari 4,56 persen menjadi 4,54 persen.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.994 per Dolar AS, Eskalasi AS-Iran Masih Jadi Pemicu
Sejumlah Sentimen Pengaruhi Pasar Modal
Sebagai informasi, Syalendra Research juga menyoroti sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar modal Indonesia pada pekan lalu.
S&P Global Ratings kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. S&P menilai memburuknya kondisi fiskal Indonesia bersifat temporer dan bukan struktural.
Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menambah 37 saham ke dalam daftar pengawasan High Shareholding Concentration (HSC). Dengan penambahan tersebut, total saham yang masuk daftar pengawasan HSC menjadi 51 emiten.
Baca juga: Saham Masuk Kategori HSC Bertambah, Apa Dampaknya bagi Investor?
Langkah tersebut dilakukan setelah BEI merevisi metodologi penentuan status HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price-impact ratio.
Di sisi lain, MSCI mengubah metodologi untuk saham berstatus Extreme Price Increase (EPI) mulai Index Review Agustus 2026.
Saham EPI dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) di atas 0,75 tetap masuk dalam MSCI Global Standard Index. Sementara saham EPI dengan FIF di bawah 0,75 akan menghadapi aturan yang lebih ketat.
Investasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun
Di sisi lain, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dan setara dengan 49,5 persen dari target investasi tahunan.
Realisasi investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp502,9 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp506,6 triliun
Sementara itu, inflasi tahunan AS tercatat turun ke level 3,5 persen yoy pada Juni 2026. Penurunan tersebut didorong oleh turunnya harga energi dan bahan bakar. (*)
Editor: Yulian Saputra


