Poin Penting
- Rasio klaim asuransi kredit mencapai 99,48 persen hingga April 2026, menekan profitabilitas industri
- Tripa hanya menggarap asuransi kredit berbasis Supply Chain Financing (SCF), bukan kredit umum.
- Strategi fokus pada SCF membuat risiko lebih terukur dan tetap didukung reasuransi.
Jakarta – Rasio klaim asuransi kredit yang hampir menyentuh 100 persen menjadi alarm bagi industri asuransi umum.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga April 2026 pendapatan premi asuransi kredit tercatat sebesar Rp6,69 triliun, sementara nilai klaim mencapai Rp6,66 triliun.
Artinya, rasio klaim industri telah mencapai 99,48 persen, mencerminkan tekanan profitabilitas yang masih membayangi bisnis asuransi kredit.
Di tengah tingginya beban klaim tersebut, PT Asuransi Tri Pakarta (Tripa) memilih strategi yang berbeda. Perusahaan mengaku sengaja tidak bermain di segmen kredit umum yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi, melainkan hanya mengambil bisnis yang berada dalam ekosistem dengan risiko yang telah terukur.
Baca juga: TRIPA Bidik Premi Rp1,7 Triliun di 2026, Dua Lini Bisnis Ini jadi Andalan
Direktur Utama PT Asuransi Tri Pakarta, Koen Yulianto, mengatakan sejak awal perusahaan menerapkan seleksi ketat terhadap portofolio asuransi kredit yang akan dijamin.
“Memang asuransi kredit kita tidak semuanya. Kita hanya memilih bisnis-bisnis yang memang menurut kita mampu dan kita bisa. Kalau kredit yang umum, kita sama sekali tidak ikut,” ujarnya saat ditemui usai RUPS Asuransi Tri Pakarta di Jakarta, Selasa (30/6).
Menurutnya, fokus utama Tripa berada pada pembiayaan Supply Chain Financing (SCF), yakni pembiayaan modal kerja kepada vendor atau kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah maupun korporasi besar.
Skema tersebut dinilai memiliki arus bisnis yang jelas sehingga risikonya lebih mudah diukur.
“Kita hanya ikut jaminan-jaminan yang sebenarnya masuk ke ekosistem properti juga. Kita ikutnya di Supply Chain Financing (SCF). Misalnya, ada vendor yang mengerjakan proyek APBN, kemudian mendapat modal kerja dari bank. Nah, itu yang masuk ke kita,” jelasnya.
Koen menegaskan, pendekatan tersebut membuat Tripa hanya masuk pada ekosistem bisnis yang telah tertata dan memiliki mitigasi risiko yang lebih baik dibandingkan kredit konsumtif atau kredit umum.
Baca juga: Di Tengah Gejolak Pasar, Investasi Asuransi Umum Masih Tumbuh Positif
“Biasanya kita masuk dalam ekosistem tertentu saja yang sudah tertata. Jadi kita tidak masuk kepada kredit-kredit yang memang bukan bidang kita,” katanya.
Ia menambahkan, karakteristik bisnis SCF juga masih mendapat dukungan dari perusahaan reasuransi karena profil risikonya dinilai lebih terukur.
“Kalau SCF kebetulan memang siklusnya sudah jadi, risikonya sudah terukur, dan perusahaan reasuransi juga masih mau untuk bisnis seperti itu,” ungkap Koen. (*) Alfi Salima Puteri


