Poin Penting
- IHSG menguat 0,64 persen ke level 6.236 pada pekan lalu, didukung saham BBRI, SRAJ, dan EMAS.
- Investor asing kembali mencatatkan arus dana masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia.
- Sentimen global, kebijakan The Fed, hingga kondisi fiskal Indonesia memengaruhi pergerakan pasar.
Jakarta – Syailendra Research telah merangkum pergerakan pasar obligasi dan pasar saham yang terpantau mengalami pergerakan yang positif pada pekan lalu.
Dari sisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 6.236 atau naik 0,64 persen pada pekan lalu, didorong oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Di samping itu, Syailendra juga mencatat tiga saham pemberat IHSG pada pekan lalu, di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).
Lalu investor asing juga mencatatkan arus masuk ke IHSG sebesar USD407 juta, berbanding terbalik dengan outflow sebesar USD112 juta pada pekan lalu.
Baca juga: Berikut 5 Saham yang Topang Penguatan IHSG Sepekan, Simak Daftarnya
Kemudian dari sisi pasar obligasi, INDOBeX Composite menguat 0,2 persen dalam satu pekan terakhir dengan tingkat yield SUN 10Y yang turun dari 7,37 persen ke 7,34 persen.
Lebih lanjut, investor asing mencatatkan arus masuk ke SUN Indonesia sebesar USD46 juta, berbanding terbalik dengan outflow senilai USD23 juta pada pekan sebelumnya.
Sentimen Global dan Domestik
Sebagai informasi, Syalendra Research juga menyoroti beberapa hal yang memengaruhi gerak pasar pada pekan lalu.
Salah satunya adalah keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah tercapainya kesepakatan kerangka kerja yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian ancaman nuklir Iran.
Lalu realisasi penerimaan pajak bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp1.917,9 triliun atau turun 0,71 persen year-on-year (yoy).
Tingginya angka restitusi dan moderasi harga komoditas global ini membuat defisit anggaran negara melebar menjadi Rp670,3 triliun, dengan defisit semester I 2026 0,76 persen terhadap PDB.
Baca juga: IHSG Awal Agustus Dibuka Menguat 0,40 Persen ke Posisi 6.261
Lebih lanjut, Jepang dan Korea Selatan diduga melakukan intervensi terkoordinasi bersama AS untuk menguatkan mata uang kedua negara di pasar terbuka. Setelah intervensi dilakukan, indeks dolar turun dari level 100.2 ke 99.9.
Adapun The Fed mempertahankan suku bunga acuan (FFR) di level 3,50-3,75 persen dengan tiga perbedaan pendapat terbanyak sejak September 2016.
Warsh tetap konsisten menolak memberikan forward guidance dengan pernyataan resmi yang sangat pendek, namun menegaskan komitmen menurunkan inflasi. (*)
Editor: Yulian Saputra


