Poin Penting
- Rupiah menguat 0,21 persen ke Rp17.607 per dolar AS, sementara DXY turun ke level 99,00.
- IHSG melemah 1,43 persen ke 6.541 dengan outflow asing mencapai Rp2,67 triliun.
- Harga minyak dan kenaikan yield UST menjadi sejumlah sentimen global yang memengaruhi pasar.
Jakarta – Syailendra Research merangkum pergerakan pasar keuangan pada pekan lalu. Rupiah menguat, sementara pasar saham dan obligasi domestik tertekan oleh sejumlah sentimen global dan domestik.
Dari sisi nilai tukar, rupiah menguat 0,21 persen ke level Rp17.607 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) turun ke level 99,00 sepanjang pekan lalu.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun atau ID10Y naik ke level 7,10 persen. Kenaikan tersebut diikuti foreign outflow sebesar Rp2,04 triliun.
Di pasar global, US Treasury tenor 10 tahun (US10Y) juga mengalami kenaikan yield hingga 4,96 persen.
Baca juga: Rupiah Hari Ini (14/9) Dibuka Menguat, Diprediksi Bergerak Rp17.590-Rp17.685 per USD
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,43 persen ke level 6.541. Pelemahan tersebut diikuti outflow investor asing sebesar Rp2,67 triliun.
Tekanan juga terjadi di pasar saham Amerika Serikat (AS). Nasdaq turun 1,6 persen, S&P 500 merosot 1,6 persen, sedangkan Dow Jones melemah 2,5 persen sepanjang pekan lalu.
Sentimen Ekonomi Domestik
Syailendra Research juga menyoroti sejumlah data ekonomi domestik yang memengaruhi pergerakan pasar pada pekan lalu.
Cadangan devisa (cadev) Indonesia pada Agustus 2026 mencapai USD146,5 miliar, naik dari posisi sebelumnya USD145,3 miliar. Sementara itu, penjualan ritel (retail sales) secara tahunan (year on year/yoy) tumbuh 1,1 persen.
Lebih lanjut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga memperpanjang jatuh tempo dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun yang ditempatkan di bank-bank Himbara hingga Juli 2027.
Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi tekanan likuiditas jangka pendek seiring Loan to Deposit Ratio (LDR) Himbara yang meningkat menjadi 90,93 persen pada Juni 2026 dari 89,43 persen pada Desember 2025.
Baca juga: Mengintip Rahasia Bank Pelat Merah sehingga Tetap Unggul
Di sisi lain, pemerintah tengah mengevaluasi pasokan crude palm oil (CPO) dan kapasitas produksi untuk rencana penerapan biodiesel B60 pada 2027.
Harga Minyak dan Yield UST Naik
Adapun dari global, harga minyak Brent melonjak 6 persen hingga menyentuh USD109,97 per barel, level tertinggi dalam empat bulan. Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi merebut kendali Pelabuhan Mocha di Yaman.
Kondisi tersebut mengancam ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah yang menjadi jalur alternatif selain Selat Hormuz. Situasi ini turut mendorong kenaikan yield US Treasury (UST).
Yield UST 10 tahun mencapai 4,97 persen, tenor 20 tahun 5,39 persen, dan tenor 30 tahun berada di level 5,37 persen.
Baca juga: IHSG Tertekan di Awal Pekan, 6 Saham Ini Masih Jadi Pilihan
Departemen Keuangan AS juga mengumumkan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang hingga USD6 miliar yang dijadwalkan pada Kamis.
Nilai tersebut tiga kali lipat dari volume normal sekitar USD2 miliar, dengan fokus pada UST tenor 10 dan 20 tahun.
Inflasi AS dan Prospek Suku Bunga Fed
AS mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,4 persen secara bulanan (month on month/MoM). Sementara itu, inflasi inti (core inflation) tercatat lebih tinggi dari konsensus sebesar 0,3 persen MoM.
Merespons data tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 16 September 2026 berdasarkan FedWatch Tool meningkat menjadi 87,3 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


