Poin Penting
- Rupiah dibuka menguat tipis 0,01 persen ke level Rp17.609 per dolar AS.
- Tekanan harga minyak dan tingginya imbal hasil UST berpotensi menekan rupiah.
- Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590-Rp17.685 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan Senin (14/9/2026). Rupiah berada di level Rp17.609 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 0,01 persen dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.611 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah. Tekanan terutama berasal dari kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil US Treasury (UST).
“Kami memperkirakan Rupiah akan memiliki bias melemah, terutama dipengaruhi oleh kembali meningkatnya tekanan harga minyak dan tingginya imbal hasil UST,” kata Andry, Senin, 14 September 2026.
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Menguat, DBS Beberkan Penopangnya
Indeks dolar AS (DXY) terapresiasi 0,07 persen menjadi 99,12. Secara year to date (ytd), DXY telah menguat 0,81 persen dan diperdagangkan di sekitar 99,15.
Pergerakan DXY dipengaruhi kenaikan imbal hasil UST yang diimbangi penguatan mata uang utama menjelang pertemuan sejumlah bank sentral utama.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun 2,81 persen menjadi USD104,6 per barel pada Jumat. Namun, harga kembali rebound sekitar 3 persen hingga menembus USD107 per barel pada Senin pagi.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin menguat menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.
Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) mencapai sekitar 86 persen. Ekspektasi tersebut menguat setelah data payrolls AS lebih kuat serta dua rilis berturut-turut Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi.
“Dengan demikian, The Fed semakin diperkirakan akan menaikkan Fed Funds Rate untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2023, sementara pasar juga melihat kemungkinan adanya kenaikan suku bunga berikutnya pada akhir tahun ini,” jelasnya.
Baca juga: Syailendra Research: Pasar Keuangan Kompak Menguat, Rupiah dan IHSG Jadi Penopang
Meski demikian, DXY yang relatif stabil dan arus dana asing yang positif ke pasar obligasi berpotensi membatasi besarnya pelemahan rupiah.
“Pandangan kami rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.685 per dolar AS hari ini,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


