Poin Penting
- Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin meminta Bank Indonesia mengoptimalkan DHE SDA untuk menjaga stabilitas rupiah
- Puteri menilai pendalaman pasar keuangan perlu diperkuat agar eksportir mau menempatkan devisa di dalam negeri
- Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan BI mendukung penguatan DHE SDA lewat penajaman aturan dan koordinasi KSSK.
Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mengoptimalkan instrumen Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Hal ini menyusul kondisi nilai tukar (kurs) rupiah mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp17.666, per dolar AS pada Senin (18/5/2026).
“Tentu, DHE SDA ini merupakan salah satu solusi kebijakan untuk penguatan nilai tukar kita hari ini. Dan, yang menjadi perhatian adalah bagaimana kita bisa mengoptimalisasi devisa hasil ekspor supaya bisa membantu stabilitas suplai valuta asing yang ada di Indonesia,” ungkap Puteri dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut Putri, diperlukan adanya pendalaman pasar keuangan agar semakin menarik bagi eksportir yang ingin memarkirkan dananya ke Indonesia.
“Namun, harus kita akui juga, pendalaman pasar keuangan kita masih kurang. Sehingga, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mereka ingin memarkirkan dananya di Indonesia, ketika produk-produk yang mereka inginkan itu belum tersedia,” urainya.
Baca juga: Redam Gejolak Rupiah, Purbaya Sudah Masuk Pasar Obligasi Sejak Pekan Lalu
Untuk itu, dirinya mendorong koordinasi yang efektif dan erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Utamanya, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan juga Kemenkeu untuk semakin memperkuat lagi bauran kebijakan ekonomi. Supaya, berbagai kebijakan yang telah dibuat ini bisa memperkuat nilai tukar kita,” ucap Puteri.
Selain itu, Puteri juga menyoroti kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dikeluarkan oleh BI, hingga mencapai Rp388,1 triliun pada 2025 lalu.
Baca juga: Rupiah Tertekan, OJK Tetap Optimistis Kinerja Perbankan Nasional Solid
“Tentu, angka ini bukan jumlah kecil, dan harapannya memang dapat mendorong akselerasi intermediasi perbankan maupun penurunan biaya kredit di sektor riil. Untuk itu, yang perlu menjadi perhatian BI kemudian, adalah bagaimana insentif likuiditas yang sudah sangat besar tadi, bisa menurunkan biaya kredit, sekaligus meningkatkan akses pembiayaan ke masyarakat,” bebernya.
Pada kesempatan ini, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendukung kebijakan DHE SDA melalui penajaman kebijakan penempatan DHE SDA.
“Ini bagus sekali. Namun, karena kebijakan DHE-nya ada di Pemerintah, BI akan mengambil peran untuk mempertajam kebijakan penempatan DHE SDA. Kami pun sudah siapkan instrumen melalui Peraturan Bank Indonesia dan berkoordinasi melalui KSSK,” jelas Perry. (*)
Editor: Galih Pratama


