Poin Penting
- Menkeu Purbaya menyebut ucapan Presiden Prabowo soal warga desa tidak memakai dolar AS hanya untuk menghibur masyarakat pedesaan.
- Pemerintah menilai fundamental ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia masih dalam keadaan baik meski rupiah sempat melemah.
- Purbaya mengeklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,6 persen pada triwulan I-2026 ditopang kuat oleh konsumsi masyarakat dan investasi.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai warga desa yang tidak menggunakan dolar AS hanya ditujukan untuk menghibur masyarakat.
Menurut Purbaya, ucapan tersebut disampaikan dalam konteks kunjungan Presiden ke wilayah pedesaan saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tengah mengalami tekanan.
“Untuk menghibur rakyat saja waktu itu. Saya lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, enggak apa-apa ngomong begitu,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Dolar AS Menguat, Berikut Kurs Terbaru di BCA, Mandiri, BRI dan BNI
Ia meminta masyarakat tidak menafsirkan ucapan Presiden secara berlebihan. Purbaya juga memastikan Prabowo memahami kondisi ekonomi nasional, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS.
Purbaya Tegaskan Presiden Paham Kondisi Ekonomi
Purbaya menjelaskan, penyampaian isu ekonomi makro kepada masyarakat pedesaan tidak selalu bisa dilakukan dengan bahasa teknis.
Menurutnya, istilah seperti imported inflation atau inflasi akibat barang impor akan sulit dipahami masyarakat awam apabila dijelaskan secara rinci.
Karena itu, Purbaya menilai pendekatan komunikasi Presiden dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dan mudah diterima publik.
Baca juga: Menkeu Purbaya-Bos BI Lapor ke Prabowo, Ekonomi RI Disebut Masih Kuat
Di sisi lain, Purbaya memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi baik. Ia juga membantah anggapan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sedang bermasalah.
“Fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kita yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan. Nggak, kita bagus sekali,” ujarnya.
Purbaya Klaim Strategi Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Lebih lanjut, Purbaya mengatakan pemerintah tidak hanya mengandalkan belanja negara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga mendorong aktivitas sektor swasta agar konsumsi dan investasi tetap bergerak.
Strategi tersebut, kata dia, berhasil menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen pada triwulan I-2026. Kontribusi terbesar berasal dari konsumsi masyarakat sebesar 2,9 persen, disusul investasi sebesar 1,7 persen dan belanja pemerintah sebesar 1,3 persen.
“Jadi yang men-drive dan memberi kontribusi penyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, daya belinya masih cukup bagus,” kata Menkeu.
Baca juga: Kata Presiden, Rakyat Desa Tak Pakai Dolar AS: Tapi Diam-Diam Inflasi Mencopet Dompet Orang Desa
Purbaya menilai capaian pertumbuhan ekonomi itu menjadi prestasi penting di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Ia menyebut percepatan ekonomi pada triwulan IV tahun lalu dan triwulan I tahun ini merupakan hasil reformasi kebijakan yang dijalankan pemerintah sebelum gejolak global terjadi.
Purbaya Nilai Reformasi Pemerintah Tepat Waktu
Menurut Purbaya, langkah reformasi yang dilakukan pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Pemerintah, lanjutnya, akan terus menjaga keseimbangan fiskal dan memperkuat daya beli masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Ia juga meminta publik tetap tenang menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah. Purbaya menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang aman dengan dukungan konsumsi domestik yang kuat.
Pernyataan Purbaya mengenai ucapan Presiden Prabowo sekaligus menjadi penegasan bahwa komunikasi pemerintah kepada masyarakat dilakukan dengan mempertimbangkan konteks dan kondisi audiens yang dihadapi. (*)
Editor: Yulian Saputra


