Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Baru dari Balik Layar
Page 2

Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Baru dari Balik Layar


Latar Belakang dan Pendidikan

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Khamenei.

Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi di Teheran. Pada usia 17 tahun, Mojtaba sempat beberapa kali bertugas di militer selama Perang Iran-Irak.

Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi agama di kota suci Qom, salah satu pusat teologi Syiah. Pada periode inilah ia mulai mengenakan pakaian ulama, meski keputusan menekuni studi keagamaan pada usia 30 tahun dinilai tidak lazim.

Baca juga: Prasasti: Konflik AS-Iran jadi Momentum Investor Borong Aset Keuangan

Sebelum diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih dikenal sebagai ulama tingkat menengah. Namun belakangan sejumlah media di Iran mulai menyebutnya dengan gelar Ayatollah untuk memperkuat legitimasi religiusnya.

Kontroversi Politik

Nama Mojtaba Khamenei pertama kali mencuat dalam politik Iran pada pemilihan presiden 2005 yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.

Dalam surat terbuka kepada Ali Khamenei, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut campur dalam proses pemilu melalui jaringan IRGC dan milisi Basij.

Empat tahun kemudian, kontroversi kembali mencuat saat pemilihan ulang Ahmadinejad pada 2009 memicu demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau.

Kala itu, mantan wakil menteri dalam negeri Mostafa Tajzadeh menyebut hasil pemilu sebagai "kudeta elektoral." Ia kemudian dipenjara selama tujuh tahun yang menurutnya terjadi atas "kehendak langsung Mojtaba Khamenei."

Dua kandidat reformis lainnya, Mir-Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, kemudian dijatuhi hukuman tahanan rumah setelah pemilu 2009.

Baca juga: Prabowo Bahas Perang Iran Bareng SBY dan Jokowi: Indonesia Harus Siap

Tantangan Memimpin Iran

Banyak pengamat memperkirakan Mojtaba Khamenei akan melanjutkan garis kebijakan ayahnya terhadap Barat. Apalagi ia kini memimpin Iran setelah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya akibat serangan militer AS dan Israel. Kecil kemungkinan Mojtaba akan tunduk pada tekanan Barat.

Namun tantangan besar menantinya. Mojtaba Khamenei harus memastikan stabilitas Republik Islam Iran sekaligus meyakinkan publik bahwa kepemimpinannya sah dan bukan bagian dari sistem turun-temurun.

Selain itu, ancaman keamanan juga membayangi. Menteri Pertahanan Israel sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun pengganti Khamenei akan menjadi sasaran untuk dieliminasi.

“Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pasti untuk dibunuh, apa pun namanya dan di mana pun ia bersembunyi,” kata Kepala Pertahanan Israel, Israel Katz melalui platform media sosial X. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62