Poin Penting
- Pernyataan Arifah Fauzi soal pemindahan gerbong wanita memicu polemik publik pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi.
- Arifah Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan keselamatan seluruh penumpang adalah prioritas utama.
- Arifah Fauzi memiliki latar belakang kuat di organisasi, media, dan politik sebelum menjabat sebagai Menteri PPPA.
Jakarta – Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, terkait usulan pemindahan gerbong khusus wanita ke tengah rangkaian kereta rel listrik (KRL) menuai kritik publik.
Pernyataan tersebut muncul pascainsiden tabrakan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, dan dinilai tidak sensitif terhadap situasi duka yang tengah dirasakan korban dan keluarga.
Usulan itu disampaikan usai kunjungannya menjenguk korban kecelakaan di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4/2026). Dalam konteks tersebut, wacana pemindahan gerbong khusus wanita dianggap tidak relevan dengan prioritas utama penanganan korban dan evaluasi keselamatan transportasi.
Merespons polemik yang berkembang, Arifah Fauzi akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. “Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: KemenPPPA: Baru 30,7 Persen Daycare Kantongi Izin Operasional
Kontroversi Pernyataan Arifah Fauzi dan Klarifikasi
Dalam klarifikasinya, Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas utama pemerintah tanpa membedakan gender.
“Saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tidak ada niat untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain.
“Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak,” ucap Arifah Fauzi.
Menurutnya, penanganan insiden telah dilakukan secara cepat, adil, dan menyeluruh. Kementerian PPPA turut hadir memastikan perlindungan bagi korban, terutama anak-anak yang kehilangan orang tua.
“Kami sangat berduka atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis, perlindungan, serta dukungan yang diperlukan, khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini,” ujarnya.
Baca juga: Begini Cara Klaim Asuransi Jasa Raharja Korban Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan atau pernyataan publik dari pejabat seperti Arifah Fauzi perlu mempertimbangkan sensitivitas situasi, terutama dalam kondisi duka nasional, sekaligus tetap berfokus pada aspek keselamatan dan perlindungan masyarakat.
Profil Arifah Fauzi, Menteri PPPA dari Muslimat NU
Arifah Fauzi atau Arifatul Choiri Fauzi lahir di Madura pada 28 Juli 1969. Ia saat ini menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Merah Putih, sekaligus dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU periode 2025–2030.
Latar belakang pendidikannya dimulai dari jenjang dasar hingga menengah di Jakarta, kemudian melanjutkan ke Fakultas Dakwah IAIN Yogyakarta dan lulus pada 1994. Ia meraih gelar magister komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2002 melalui beasiswa Ford Foundation.
Baca juga: Hari Kartini 2026, Menteri PPPA Arifah Fauzi Soroti Ketimpangan Gender yang Masih Lebar
Dalam perjalanan organisasinya, ia pernah menjabat Ketua Umum PP IPPNU (1989–1991), Sekjen PP Fatayat NU, serta Sekjen PP Muslimat NU. Selain itu, ia aktif di Majelis Ulama Indonesia dan berbagai gerakan sosial, termasuk gerakan antikorupsi bersama NU dan Muhammadiyah.
Karier dan Jejak Profesional Arifah Fauzi
Selain aktif di organisasi, Arifah Fauzi juga memiliki karier profesional yang beragam. Ia pernah menjadi produser sejumlah program televisi seperti Syair Dzikir di TPI dan Hikmah Pagi di TVRI. Ia juga berpengalaman sebagai show manager dalam konser kolaborasi lintas negara.
Di sektor bisnis dan sosial, ia menjabat sebagai Direktur PT Arzast Media Utama dan PT Rimang Hayu Malini, serta terlibat dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat desa melalui kerja sama dengan pemerintah.
Baca juga: Wamen Veronica Tan: Perjuangan Perempuan Harus Dimulai dari Akses dan Kemandirian
Karier politiknya semakin menguat setelah menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024. Peran tersebut membawanya masuk dalam kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Laporan LHKPN 2025 mencatat total kekayaannya sekitar Rp12,5 miliar, termasuk sejumlah aset dan kendaraan pribadi. Salah satu yang menarik perhatian adalah kepemilikan Toyota Land Cruiser 1997 senilai sekitar Rp300 juta. (*)
Editor: Yulian Saputra




