Poin Penting
- SCG Indonesia mencatat penjualan Rp5,05 triliun pada kuartal I 2026, naik 16 persen secara tahunan
- Indonesia menjadi kontributor terbesar penjualan SCG di ASEAN dengan porsi 28 persen
- SCG memperkuat efisiensi dan otomatisasi bisnis di tengah ketidakpastian global.
Jakarta – Ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik dan volatilitas harga energi belum sepenuhnya mereda. Namun, kondisi tersebut justru mampu dilalui SCG dengan kinerja positif di Indonesia.
Pada kuartal I 2026, SCG Indonesia mencatat penjualan sebesar Rp5,05 triliun atau sekitar 285 juta dolar AS, tumbuh 16 persen secara tahunan (year-on-year).
Pertumbuhan tersebut menjadikan Indonesia sebagai kontributor penjualan terbesar SCG di kawasan ASEAN dengan porsi mencapai 28 persen.
Kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan bisnis petrokimia SCGC yang memperoleh momentum dari peningkatan ekspor regional.
Secara konsolidasi, SCG membukukan EBITDA sebesar Rp8,3 triliun atau tumbuh 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara laba perusahaan tercatat sebesar Rp3,4 triliun dengan total pendapatan penjualan mencapai Rp68,9 triliun.
Baca juga: Pemerintah Dukung Langkah SCG Turunkan Emisi 51,5 Persen pada 2045
President and CEO SCG, Thammasak Sethaudom, mengatakan perusahaan memilih fokus pada penguatan fundamental bisnis di tengah kondisi global yang masih bergejolak.
“Di tengah tingginya volatilitas yang masih berlangsung, baik di kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global, SCG tetap menjaga disiplin keuangan secara ketat dan mempercepat upaya untuk memperkuat daya saing seluruh bisnis agar tetap tangguh,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5).
Menurutnya, perusahaan terus memantau perkembangan geopolitik global secara intensif agar dapat bergerak cepat dalam mengambil keputusan bisnis.
“SCG akan terus memantau perkembangan situasi secara cermat dan proaktif beradaptasi di berbagai aspek guna menghadapi dinamika yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, posisi keuangan yang solid menjadi modal utama perusahaan dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan di tengah tekanan global.
“Dengan posisi keuangan yang kuat dan kas yang memadai, SCG optimistis dapat menjaga pertumbuhan jangka panjang,” lanjut Thammasak.
Untuk menjaga stabilitas operasional, SCG membentuk “Daily War Room” sebagai pusat koordinasi manajemen tingkat tinggi. Melalui strategi ini, perusahaan mempercepat pengadaan bahan baku dari berbagai negara dan memastikan pasokan produk utama tetap aman, terutama produk bernilai tambah tinggi atau High Value-Added Products (HVA).
SCG juga memperkuat langkah efisiensi melalui pengelolaan biaya energi dan bahan baku secara ketat. Perseroan meningkatkan penggunaan energi alternatif serta memperluas pemanfaatan kendaraan listrik dalam distribusi produk guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, restrukturisasi operasional dan penghentian bisnis yang kurang menguntungkan turut menjadi bagian strategi efisiensi perusahaan. Langkah tersebut diklaim mampu menghasilkan penghematan biaya sekitar Rp3,46 triliun sepanjang 2026.
Tak hanya fokus pada efisiensi jangka pendek, SCG juga mulai memperkuat infrastruktur bisnis regional untuk periode 2026-2027. Salah satu strateginya melalui konsolidasi jaringan pabrik di ASEAN dengan mengadopsi teknologi robotik dan otomatisasi produksi.
Baca juga: Transformasi Kemasan Jadi Senjata Baru Dua Kelinci Tingkatkan Penjualan
Langkah itu diperkirakan mampu menekan biaya produksi regional hingga sekitar Rp1,8 triliun per tahun.
Selain itu, perusahaan juga memperluas pemasaran produk ramah lingkungan, Smart-Value Product (SVP), serta produk bernilai tinggi guna menjaga profitabilitas di tengah perubahan pasar global.
Sementara itu, bisnis kemasan SCGP di Indonesia turut menunjukkan pemulihan kinerja. Unit usaha tersebut mencatat laba sebesar Rp835,84 miliar pada kuartal I 2026, didorong oleh efisiensi operasional dan pertumbuhan konsumsi domestik di pasar ASEAN. (*) Alfi Salima Puteri


