Potensi Industri Influencer Marketing di RI Diproyeksi Capai Rp14 Triliun

Potensi Industri Influencer Marketing di RI Diproyeksi Capai Rp14 Triliun

Potensi Industri Influencer Marketing di RI Diproyeksi Capai Rp14 Triliun
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Indonesia masuk dalam daftar 10 besar negara di dunia yang penduduknya kecanduan media sosial. Data Statista menunjukkan jumlah pengguna sosial media di Indonesia sebanyak 204 juta jiwa dari total populasi pada tahun 2022. Dan akan mengalami kenaikan menuju angka 236 juta jiwa pada tahun 2026.

Tren jumlah pengguna medsos yang terus meningkat itu juga terjadi di seluruh dunia dan telah diadopsi oleh pemilik brand dengan spending iklan influencer marketing (medsos) yang terus meningkat. Influencer Marketing Hub (2022) memperkirakan total nilai pasar influencer marketing di dunia mencapai USD104 miliar atau setara dengan Rp1.493 triliun (Kurs Rp14.359 per USD) pada 2022.

Dengan nilai PDB Indonesia menyumbang 1,28% dari total PDB dunia, bisa diperkirakan nilai bisnis industri influencer marketing di Indonesia bernilai sekitar Rp14 triliun.

“Namun sayangnya nominal tersebut tidak terbagi rata bagi setiap segmen di mana influencer atau konten kreator kalangan atas masih mendominasi pembagian kue pendapatan industri ini,” kata Jennifer Ang, Founder CUIT Indonesia, startup yang berusaha memberikan kesempatan kepada influencer ataupun konten kreator kalangan bawah, Rabu, 27 April 2022.

Menurut Jennifer, teknologi sebenarnya memungkinkan pemerataan pendapatan di industri influencer marketing. Karena sebenarnya, influencer kalangan bawah atau yang lazim disebut dengan hyper micro influencer (memiliki followers di bawah 10 ribu) mempunyai kelebihan, yakni, persona yang menarik.

Influencer di kategori ini mempunyai ciri khas yang unik, ekspresif, dan asli. Hasil postingan mereka pun mempunyai kategori yang beragam mulai dari kuliner, fesyen, musik, game, dan sebagainya, bahkan pertanian. “Tapi memang selama ini hal tersebut belum banyak dilirik oleh merek atau brand. Mereka belum mendapat kesempatan banyak untuk mengakses kue industri influencer marketing,” tambah Jennifer.

Dengan persona unik orang-orang biasa, hyper micro influencer ini, menurut Jennifer, sebenarnya terdapat banyak opsi bagi brand untuk bekerja sama dalam kegiatan marketing sesuai kebutuhannya. Namun, untuk bisa memungkinkan kerjasama tersebut, brand perlu mendapat dukungan data yang akurat terkait hyper micro influencer sehingga bisa melakukan proses seleksi yang tepat dalam kegiatan influencer marketing mereka.

Menurutnya, dukungan data sangat penting untuk menemukan solusi sehingga menghasilkan simbiosis mutualisme antara brand dan hyper micro influencer. “Dan teknologi memungkinkan untuk menghasilkan data yang akurat sebagai bahan pertimbangan bagi brand untuk optimasi dana marketing mereka,” jelas Jennifer.

Sebelumnya, Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, mengatakan penetrasi digital yang makin masif ternyata justru membuat jurang ketimpangan makin lebar.

Mengutip hasil survey dari Bank Dunia menyebutkan bahwa penetrasi digital di era pandemi hanya memberi kenaikan pendapatan untuk kalangan bawah sebesar 1 persen, sedangkan bagi kalangan atas kenaikan pendapatan jauh di angka 24 persen.

“Isu kita bukan hanya soal seberapa cepat ekonomi Indonesia pulih, tetapi isu yang lebih fundamental lagi adalah ternyata pascapandemi ini ketimpangan semakin melebar. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Ini menjadi salah satu isu karena digitalisasi,” kata Bhima Yudhistira di kesempatan berbeda. (*)

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]