Potensi Ekspor Komoditas Ini Capai Rp15 Triliun, Kain dan Kopi jadi Sarana Diplomasi di G20

Potensi Ekspor Komoditas Ini Capai Rp15 Triliun, Kain dan Kopi jadi Sarana Diplomasi di G20

Potensi Ekspor Komoditas Ini Capai Rp15 Triliun, Kain dan Kopi jadi Sarana Diplomasi di G20
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Indonesia memiliki ribuan jenis kain yang terhampar di wilayah Nusantara, menjadi kekayaan budaya dan identitas bangsa. Dari cara memproduksi kain sampai dengan corak atau motif yang digoreskan di dalam kainnya, keragamannya sangat banyak, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi. Tak heran bila produk kain-kain tersebut menjadi komoditi yang diminati banyak bangsa.

Demikian halnya dengan kopi. Dengan keragaman geografi wilayah yang membentang dari Sabang hingga Merauke, Miangas hingga Rote, tanaman kopi yang tumbuh di titik-titik terbaik di tanah air menghasilkan citarasa kopi yang berbeda-beda, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan terpenting yang juga dicari bangsa-bangsa asing.

Kain dan kopi itulah yang ditampilkan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai sarana diplomasi dan komoditas yang diangkat senagai potensi bisnis di sela-sela pertemuan tingkat menteri dan gubernur bank sentral anggota G-20 dan negara-negara mitra yang diselenggarakan di Jakarta pada 15-18 Februari 2022 lalu.

“Kami pilih dua komoditas itu bukan tanpa alasan. Potensi kain dan kopi untuk dikenalkan kepada negara-negara lain itu masih sangat besar. Hari ini, produksi kopi Indonesia sudah menjadi bagian dari bisnis dan industri kopi dunia. Apalagi, kita termasuk negara produsen kopi terbesar selain Brazil, Kolumbia, dan Vietnam,” ujar Direktur Eksekutif LPEI Rijani Tirtoso Bondan seperti dikutip di Jakarta.

Bukan tanpa alasan LPEI menghadirkan kain dan kopi sebagai sarana diplomasi internasional di ajang pertemuan G-20 ini. Berdasarkan kajian Indonesia Eximbank Institute, nilai ekspor kopi Indonesia di tahun 2022 bisa mencapai Rp14 triliun, dan pasarnya masih sangat luas. Sementara potensi ekspor kain tenun dan kerajinan kain di tahun ini juga tak kalah menarik, diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp1 triliun.

“LPEI berharap, dengan menggarap dua komoditas tersebut secara lebih fokus, mendampingi para pelakunya secara konsisten dan persisten, kita bisa memberikan kontribusi lebih besar bagi para pelaku usaha kopi dan kain di tanah air. Sehingga dapat menjadi gestur postif bahwa pelaku usaha siap untuk bangkit dan pulih kembali,” pungkas Rijani.

Ia menambahkan, LPEI mendorong banyak produsen kopi di level hulu untuk ikut menikmati aroma wangi bisnis kopi dunia. Salah satunya adalah melalui program Desa Devisa untuk komoditas kopi. Rijani optimis, dengan pembinaan dan pendampingan yang tepat, sinergi dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan khususnya pada ekosistem ekspor juga dengan promosi yang lebih gencar, kain dan kopi Indonesia bisa berbicara lebih banyak di pasar internasional, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha di kedua sektor tersebut.

Di ajang pertemuan G20 sektor finansial yang dimulai 16 Februari lalu, LPEI juga berkolaborasi menggandeng barista-barista muda Indonesia yang sudah mendapatkan pengakuan internasional, untuk menyajikan kopi terbaik Indonesia kepada para delegasi dan tamu undangan.

Yoshua Tanu, salah satu barista yang digandeng LPEI untuk melayani tamu-tamu undangan mengatakan, “Ini sangat keren. Kita sebagai pemain kopi berkesempatan melayani delegasi dari kopi-kopi terbaik dari Indonesia, dan mereka bisa merasakan seperti apa nikmat dan enaknya kopi dari Indonesia. Untuk event G-20 ini, kita sajikan kopi Bali Kintamani, Aceh Gayo, dan Toraja Kalos,” katanya.

Sementara kain-kain yang diangkat oleh LPEI untuk ditunjukkan kepada bangsa-bangsa lain adalah kain tenun lurik dan tenun ikat yang sebagian sudah diolah menjadi aneka bentuk fashion dan home furnishing. Kain tenun sendiri merupakan warisan budaya yang eksistensinya terus dikembangkan setiap generasi. Bukti arkeologis membuktikan bahwa seni menenun sudah dikenal di Indonesia pada abad ke-9 dan ke-10. Alat tenun yang digerakkan dengan tangan atau hand made membuat kegiatan menenun membutuhkan keahlian kecermatan, dan ketekeunan untuk menghasilkan kain yang berkualitas.

“Yang menarik dan industri kain ini, skalanya mulai dari yang kecil hingga industri. Nah, dalam proses produksi kain ini, keterlibatan kaum perempuan sangat dominan dalam proses produksi dan bisnisnya. Dengan mengangkat kain-kain Nusantara, LPEI melihat bahwa langkah ini memiliki dua manfaat yaitu sekaligus mengangkat bisnisnya dan l melibatkan perempuan dalam industri sehingga menjadikan kaum perempuan lebih berdaya,” papar Rijani (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]