Poin Penting
- Sektor keuangan mendominasi penerbitan surat utang Q1 2026, dipimpin perusahaan pembiayaan, holding, dan perbankan dengan total puluhan triliun rupiah
- Faktor suku bunga dan nilai tukar menjadi penentu utama kinerja, dengan risiko tekanan dari gejolak geopolitik global
- Pefindo mempertahankan outlook stabil untuk 40 entitas keuangan, namun proyeksi ke depan lebih konservatif.
Jakarta – Lembaga pemeringkat kredit PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat sektor keuangan masih menjadi kontributor utama penerbitan surat utang domestik pada kuartal I 2026. Tiga sektor yang mendominasi yakni perusahaan pembiayaan (konsumtif-otomotif), perusahaan induk, dan perbankan.
Secara rinci, enam perusahaan pembiayaan menerbitkan obligasi senilai Rp9,3 triliun dan sukuk Rp1,4 triliun, sehingga total mencapai Rp10,7 triliun.
Sementara itu, empat perusahaan induk membukukan penerbitan Rp9,2 triliun yang terdiri dari obligasi Rp1,7 triliun, MTN Rp7 triliun, dan sukuk Rp500 miliar.
Adapun dari sektor perbankan, empat bank mencatatkan total penerbitan sebesar Rp8,7 triliun, yang berasal dari obligasi Rp8,2 triliun dan sukuk Rp500 miliar. Kondisi ini mencerminkan kuatnya peran industri keuangan dalam menopang pasar surat utang domestik.
Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo, Danan Dito, mengungkapkan terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja penerbitan surat utang, khususnya pada sektor pembiayaan.
“Jadi, kalau dari sisi yang bisa langsung memengaruhi itu dari sisi suku bunga, dan juga dari sisi exchange rate atau nilai tukar valuta asing,” ujar Danan dalam paparan virtual, Rabu, 15 April 2026.
Baca juga: Penerbitan Surat Utang Korporasi Tembus Rp59,4 Triliun di Kuartal I 2026
Menurutnya, kedua faktor tersebut menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan pembiayaan dalam memproyeksikan kinerja bisnis ke depan. Gejolak geopolitik yang mendorong tingginya suku bunga serta tekanan terhadap nilai tukar berpotensi memengaruhi penjualan dan pertumbuhan usaha.
“Tak cuma perusahaan otomotif atau pembiayaan, tapi dari sisi banking juga kami sedang monitor dan hal utama yang kita lihat adalah pertumbuhannya. Apakah proyeksi yang sudah diterima sebelumnya dan kondisi seperti ini sejauh mana akan berdampak,” jelas Danan.
Ia menambahkan, proyeksi kinerja industri keuangan sepanjang tahun masih terlalu dini jika hanya mengacu pada capaian kuartal I. Namun demikian, risiko disrupsi tetap perlu diwaspadai, terutama dari faktor suku bunga tinggi dan pelemahan nilai tukar akibat ketidakpastian geopolitik global.
Selain itu, meski kenaikan harga minyak global belum berdampak signifikan terhadap harga BBM domestik, tekanan sudah mulai terasa pada harga kebutuhan lainnya.
“Kita juga melihat apakah itu nanti bisa mempengaruhi penjualan otomotif. Jadi, itu berdampak ke perusahaan pembiayaan kalau misalnya produksi mobil-motor menurun, pembeliannya menurun. Kita bisa lihat juga nanti dampaknya ke perusahaan asuransi,” ucapnya.
Dari sisi pemeringkatan, Pefindo masih mempertahankan outlook stabil bagi lembaga keuangan, termasuk perusahaan pembiayaan dan perbankan. Hingga saat ini, belum terdapat perubahan peringkat maupun outlook terhadap entitas yang diperingkat.
Meski demikian, Pefindo mengadopsi pendekatan yang lebih konservatif dalam menetapkan proyeksi ke depan, seiring tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Sepanjang kuartal I 2026, Pefindo telah melakukan pemeringkatan terhadap 40 perusahaan keuangan, yang terdiri dari 14 bank, 15 perusahaan pembiayaan, 4 asuransi dan penjaminan, 1 holding, 1 sekuritas, serta 5 entitas terkait pemerintah.
Dari total tersebut, seluruhnya memiliki outlook stabil, dengan rincian peringkat meliputi 21 entitas berperingkat IDAAA, 3 IDAA+, 3 IDAA, 4 IDAA-, 2 IDA+, 5 IDA, 1 IDA-, dan 1 IDBBB+.
Salah satu entitas yang baru masuk dalam pemeringkatan adalah PT Danantara Investment Management (Persero), yang memperoleh rating IDAAA dengan outlook stabil. (*) Steven Widjaja







