Poin Penting:
- Kenaikan harga Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter dinilai wajar karena mengikuti mekanisme pasar global.
- Penyesuaian harga BBM nonsubsidi diperlukan untuk menghindari beban pada APBN, Pertamina, dan badan usaha.
- Pemerintah didorong mempercepat transisi energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Jakarta – Kenaikan harga Pertamina Dex menjadi Rp27.900 per liter dinilai sebagai langkah wajar karena mengikuti dinamika harga energi global.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menegaskan, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memang tidak bisa dilepaskan dari mekanisme pasar internasional.
Eddy menyampaikan bahwa harga BBM nonsubsidi, termasuk solar dengan cetane number (CN) tinggi, harus menyesuaikan kondisi pasar.
“BBM nonsubsidi harus menyesuaikan dengan kondisi harga di pasaran. Jadi, tidak heran kalau ada kenaikan harga BBM nonsubsidi,” ujarnya, dikutip Antara, Senin (4/5/2026).
Ia menambahkan, kebijakan ini penting untuk menjaga keseimbangan beban keuangan negara dan badan usaha. Jika harga tidak disesuaikan, maka tekanan akan dirasakan oleh APBN, Pertamina, hingga pelaku usaha swasta.
Baca juga: Harga BBM Pertamina, BP, dan Vivo Mei 2026 Naik Lagi, Ini Rinciannya
Kenaikan Pertamina Dex Ikuti Mekanisme Pasar
Kenaikan harga Pertamina Dex merupakan bagian dari penyesuaian yang dilakukan sejumlah badan usaha energi pada awal Mei 2026. Selain Pertamina, perusahaan seperti BP Indonesia dan VIVO juga menaikkan harga produk BBM diesel mereka.
Eddy menjelaskan bahwa di luar BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi, harga BBM nonsubsidi sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar. “Kalau dibiarkan dengan harga lama, tentu akan menjadi beban bagi Pertamina dan juga APBN. Bagi badan usaha swasta, saya rasa mungkin juga sama,” ujarnya.
Per 4 Mei 2026, harga Pertamina Dex (CN 53) naik menjadi Rp27.900 per liter dari sebelumnya Rp23.900. Sementara itu, Dexlite (CN 51) juga meningkat menjadi Rp26.000 per liter dari Rp23.600. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Turbo yang kini berada di level Rp19.900 per liter.
Tren Kenaikan Harga BBM Global
Penyesuaian harga ini sejalan dengan tren kenaikan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada BBM nonsubsidi. Bahkan, perusahaan lain seperti BP dan VIVO menetapkan harga solar CN 51 di angka Rp30.890 per liter, menunjukkan tekanan harga yang merata di industri.
Meski demikian, Eddy menilai kenaikan harga bukan sesuatu yang mengagetkan. Ia menyebut harga BBM bisa kembali turun jika harga minyak global mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan fleksibilitas mekanisme pasar dalam menentukan harga energi.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, DPR Soroti Minimnya Sosialisasi
Dorongan Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Di tengah fluktuasi harga global, Eddy mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap energi impor agar Indonesia lebih tahan terhadap gejolak pasar global.
“Bagaimanapun, dengan ketergantungan yang masih tinggi terhadap energi fosil, khususnya yang dipengaruhi oleh pasar global, maka setiap gejolak harga minyak dunia akan selalu berpotensi menekan perekonomian kita,” kata Eddy.
Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan, seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi. Menurutnya, langkah ini krusial untuk menciptakan kemandirian energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.
“Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” ujarnya.
Kenaikan harga Pertamina Dex mencerminkan realitas pasar energi global yang dinamis, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya percepatan transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.(*)
Editor: Galih Pratama


