Poin Penting
- KNKG menilai transparansi dan tata kelola keberlanjutan menjadi kunci menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global
- KNKG menyebut laporan keberlanjutan kini menjadi instrumen strategis untuk mencegah greenwashing dan memperkuat daya saing perusahaan
- Pemerintah terus memperkuat tata kelola, reformasi sektor keuangan, dan investasi guna menjaga daya tarik ekonomi Indonesia.
Jakarta – Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menegaskan pentingnya penguatan transparansi dan tata kelola keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Umum KNKG Mardiasmo mengatakan bahwa keberlanjutan kini tidak lagi sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan telah menjadi strategi utama yang menentukan daya saing korporasi.
Menurutnya, perusahaan dituntut menyajikan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan yang lebih terukur, transparan, dan akuntabel seiring penerapan standar pengungkapan keberlanjutan terbaru SPK 1 dan SPK 2.
“Kepercayaan publik harus dibangun di atas fondasi keterbukaan dan integritas,” ujar Mardiasmo dalam sosialisasi Annual Report Award (ARA) 2025, Senin, 11 Mei.
Baca juga: Resmikan ISRF, IAI Dorong Penguatan Ekosistem Pelaporan Keuangan dan Keberlanjutan
Mardiasmo menekankan bahwa laporan keberlanjutan tidak boleh lagi dipandang sebagai beban administrasi, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memitigasi risiko greenwashing dan meningkatkan kepercayaan investor.
Ia menambahkan, hingga saat ini sebanyak 59 perusahaan telah mendaftar dalam ARA 2025 dan KNKG juga mendorong partisipasi lebih besar dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang baru diikuti enam perusahaan.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menilai penguatan tata kelola korporasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik investasi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Menurut Ferry, investor global kini semakin selektif dalam memilih negara tujuan investasi dan lebih memprioritaskan negara dengan fundamental ekonomi kuat, regulator kredibel, serta perusahaan yang konsisten menerapkan tata kelola yang baik.
“Ini satu momentum bagi Indonesia untuk terus memperkuat fondasi tata kelolanya baik di tingkat makro maupun di tingkat korporasi. Sebagai satu sumber daya struktural yang berkelanjutan,” katanya.
Ferry menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen di kuartal I 2026, tertinggi di antara negara-negara G20 yang telah merilis data pertumbuhan terbaru.
Ia menambahkan pertumbuhan tersebut didukung konsumsi domestik yang solid, inflasi rendah dan stabil di level 2,4 persen, serta penambahan 1,9 juta tenaga kerja baru per Februari 2026.
“Pemerintah tentu memiliki target pertumbuhan yang tinggi namun terukur dengan target jangka menengah yang tentu menuntut percepatan investasi, peningkatan produktivitas, serta penguatan sektor-sektor kualitas mulai dari pertanian, manufaktur, hilirisasi, ekonomi digital, serta ketahanan energi,” jelasnya.
Pemerintah, lanjut Ferry, terus mendorong reformasi struktural melalui penyederhanaan perizinan, penguatan sektor keuangan, serta pengembangan transaksi mata uang lokal guna meningkatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
Baca juga: Kemendagri Jamin Keberlanjutan PPPK, Belanja Pegawai Tetap Ideal
“Di sektor keuangan juga terus dilakukan berbagai reformasi baik di pasar modal maupun juga bagaimana mengelola nilai tukar rupiah, misalnya dengan penguatan kerangka transaksi dalam mata uang lokal atau local currency transaction,” jelasnya.
Ferry menjelaskan tata kelola korporasi yang baik bukan hanya sekadar aspek internal perusahaan.
“Apabila terdapat kelemahan di tata kelola, di level korporasi baik dalam bentuk pengungkapan yang tidak memadai, kelemahan pengawasan internal maupun praktik bisnis yang tidak akuntabel, ini juga berpotensi menimbulkan berbagai risiko yang kita harus hadapi bersama,” tuturnya. (*)
Editor: Galih Pratama


