Poin Penting
- Penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp646,3 triliun atau 27,4 persen dari target APBN 2026, tumbuh 16,1 persen secara tahunan
- Pertumbuhan penerimaan ditopang PPh orang pribadi dan PPh 21 sebesar Rp101,1 triliun yang naik 25,1 persen, serta PPN dan PPnBM Rp221,2 triliun yang melonjak 40,2 persen
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kuatnya penerimaan pajak mencerminkan aktivitas ekonomi masih solid dan membantah anggapan ekonomi menuju krisis.
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp646,3 triliun. Realisasi penerimaan pajak tersebut tumbuh 16,1 persen secara tahunan atau setara 27,4 persen dari pagu APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.
“Penerimaan pajak sampai dengan April 2026 tumbuh solid sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, realisasnya tumbuh 16 persen,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa, 19 Mei 2026 di Jakarta.
Baca juga: Redam Gejolak Rupiah, Purbaya Sudah Masuk Pasar Obligasi Sejak Pekan Lalu
Purbaya menjelaskan, pertumbuhan tersebut berasal dari PPh orang pribadi dan PPh 21 sebesar Rp101,1 triliun atau tumbuh 25,1 persen. Kemudian, PPN & PPnBM tumbuh 40,2 persen atau Rp221,2 triliun yang mencerminkan aktivitas ekonomi masih tinggi.
“Ini kan yang menarik PPh orang pribadi dan PPh 21 tumbuhnya 25,1 persen berarti kan kuat. Padahal di luar banyak yang bilang daya beli sedang hancur, ini yang bikin saya bingung sebetulnya, tapi datanya seperti ini,” katanya.
Baca juga: Breaking News! APBN Tekor Rp164,4 Triliun per April 2026
Selain itu, lanjut Purbaya, PPh badan dan deposit PPh badan tercatat sebesar Rp135,2 triliun atau tumbuh 5,1 persen. Adapun PPh final, PPh 22, dan PPh 26 terkumpul Rp109,1 triliun atau 9,8 persen, namun pajak lainnya terkoreksi 12 persen atau sebesar Rp79,7 triliun.
“Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat signifikan, apalagi mereka bilang menuju krisis 1997-1998,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


