Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan APBN April 2026 defisit Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB, sementara keseimbangan primer surplus Rp28 triliun
- Pendapatan negara mencapai Rp918,4 triliun, ditopang pertumbuhan pajak 16 persen dan PNBP Rp171,3 triliun
- Belanja negara terealisasi Rp1.082,8 triliun atau tumbuh 34,3 persen yoy hingga April 2026.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 mengalami defisit Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisitnya Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa, 19 Mei 2026 di Jakarta.
Adapun keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp28 triliun atau minus 31,2 persen terhadap APBN.
Baca juga: Redam Gejolak Rupiah, Purbaya Sudah Masuk Pasar Obligasi Sejak Pekan Lalu
“Keseimbangan primer sudah surplus lagi Rp28 triliun dan ke depan mungkin akan terus membaik,” katanya.
Purbaya merinci, dari sisi pendapatan negara hingga akhir April 2026 mencapai Rp918,4 triliun, setara 29,1 persen terhadap pagu APBN 2026 atau tumbuh 13,3 persen yoy.
“Di mana pajak tumbuhnya 16 persen dan mungkin akan lebih tinggi lagi, mungkin mendekati 20 persen,” pungkasnya.
Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu yang terkontraksi 10,8 persen per April 2025.
Pertumbuhan juga terjadi pada penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Hingga April 2026, PNBP tumbuh 11,6 persen atau senilai Rp171,3 triliun. Ini setara 37,3 persen dari pagu APBN 2026.
Baca juga: Purbaya soal Isu Badan Ekspor: Saya Gak Tahu, Presiden yang Umumin
Sementara realisasi belanja negara per April 2026 Rp1.082,8 triliun atau 28,2 persen dari pagu APBN 2026. Angka tersebut tumbuh 34,3 persen yoy.
“Jadi keseimbangan primer yang surplus bukan terjadi karena belanjanya di-rem, tetap saja belanjanya cepat sampai April pertumbuhannya adalah 34,3 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


