Poin Penting
- Penerbitan obligasi korporasi semester I 2026 turun 3,91 persen menjadi Rp87,35 triliun, dipicu kenaikan yield obligasi pemerintah dan BI Rate yang meningkatkan biaya dana
- Sektor multifinance menjadi penerbit terbesar dengan nilai Rp12,93 triliun, disusul pulp dan kertas, perusahaan induk, perbankan, serta pertambangan
- Pefindo menilai kenaikan biaya pendanaan membuat emiten lebih selektif menerbitkan obligasi dan mulai beralih ke pembiayaan yang lebih kompetitif, seperti kredit perbankan.
Jakarta – Pasar obligasi korporasi mencatat perlambatan pada semester I 2026. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melaporkan, nilai penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari–Juni 2026 turun secara tahunan, seiring meningkatnya biaya dana akibat kenaikan yield obligasi pemerintah dan suku bunga acuan.
Secara kumulatif, penerbitan obligasi korporasi pada semester I 2026 mencapai Rp87,35 triliun, atau turun 3,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp90,90 triliun.
Meski demikian, rasio penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo meningkat menjadi 158,2 persen pada Januari–Juni 2026, dari 140,3 persen pada periode yang sama 2025.
Hal ini menunjukkan penerbitan baru masih lebih tinggi dibandingkan nilai obligasi yang jatuh tempo.
Baca juga: DSSA Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp319,86 Miliar, Segini Besaran Kuponnya
Dari sisi sektoral, penerbitan obligasi korporasi masih didominasi sektor multifinance dengan nilai Rp12,93 triliun atau 23,8 persen dari total penerbitan.
Posisi berikutnya ditempati sektor pulp dan kertas sebesar Rp12,84 triliun (14,7 persen), perusahaan induk Rp11,87 triliun (13,6 persen), perbankan Rp11,69 triliun (13,4 persen), serta pertambangan Rp11,58 triliun (13,3 persen).
Berdasarkan jenis penerbit, korporasi nonkeuangan menyumbang 52,9 persen dari total penerbitan obligasi pada semester I 2026, sementara institusi keuangan berkontribusi 47,1 persen.
Sementara itu, dari sisi kepemilikan, korporasi swasta masih menjadi penerbit terbesar efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) dengan nilai Rp62,9 triliun. Adapun kelompok BUMN membukukan penerbitan sebesar Rp16,2 triliun.
Pefindo juga mencatat porsi outstanding EBUS korporasi BUMN terhadap total outstanding EBUS korporasi terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pangsanya menyusut dari 62,8 persen pada 2020 menjadi 49,4 persen pada 2023, dan kembali turun menjadi 40,6 persen pada semester I 2026.
Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo, mengatakan, penurunan penerbitan obligasi tidak terlepas dari kenaikan yield obligasi pemerintah sebagai acuan (benchmark) serta meningkatnya BI Rate yang berdampak pada naiknya biaya pendanaan emiten.
“Itu memang terlihat untuk semua tenor surat utang ada kenaikan yield. Ini tentunya karena acuannya sebagai benchmark itu obligasi pemerintah juga mengalami kenaikan yield di beberapa bulan terakhir atau selama semester 1 2026 ini,” ujar Hendro dalam media forum virtual, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Hendro, pemantauan Pefindo menunjukkan realisasi kupon obligasi berperingkat AAA bertenor tiga tahun mengalami kenaikan dalam tiga bulan terakhir pada semester I 2026, yakni April hingga Juni. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya biaya dana di pasar obligasi.
Baca juga: BEI Catat Emisi Obligasi dan Sukuk Capai Rp67,84 Triliun hingga Mei 2026
“Terlihat bahwa biaya dana di beberapa peringkat telah berada di atas rata-rata suku bunga pinjaman, sehingga ini menyebabkan emiten mulai lebih selektif ya dalam melakukan penerbitan obligasi,” sebutnya.
Ia menambahkan, kenaikan biaya pendanaan membuat obligasi korporasi menjadi kurang menarik dibandingkan sumber pembiayaan lain, terutama kredit perbankan.
“Opsi pendanaan melalui obligasi menjadi kurang kompetitif, karena bagi emiten itu mereka jadi harus membayar bunga atau biaya pendanaan itu lebih tinggi dibandingkan dengan opsi pendanaan lain misalnya melalui kredit perbankan,” tandas Hendro. (*) Steven Widjaja


