Moneter dan Fiskal

Pemerintah Targetkan Negosiasi Tarif Resiprokal AS Rampung Bulan Ini

Poin Penting

  • Pemerintah menargetkan perundingan tarif resiprokal dengan AS rampung bulan ini
  • Indonesia meminta tarif 0 persen untuk komoditas yang tidak diproduksi AS serta penurunan tarif di bawah 19 persen untuk produk yang dibutuhkan AS.
  • Tarif resiprokal AS saat ini 19 persen—turun dari 32 persen—namun pemerintah masih melobi pengecualian untuk komoditas ekspor utama seperti kakao, kopi, dan kelapa sawit.

Jakarta – Pemerintah menargetkan perundingan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap barang produk Indonesia rampung bulan ini.

“Secepatnya. Makanya kalau bisa mungkin sampai dengan bulan ini selesai. Kita dorong bulan ini selesai,” ujar Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta, Jumat, 14 November 2025.

Namun demikan, kata Edi, rampungnya negosiasi tersebut tergantung pada fleksibilitas pemerintah AS untuk menampung aspirasi Indonesia. Menurutnya, pemerintah menginginkan agar perdagangan dengan Negeri Paman Sam dilakukan secara adil.

Baca juga : Demi Tarif Resiprokal, Indonesia Siap Borong Produk AS Rp550 Triliun

“Karena yang paling penting, Indonesia itu bukan penyebab dari defisitnya AS. Indonesia berdagangan dengan Amerika dilakukan dengan cara yang fair juga,” jelasnya.

Menurut Edi, dalam perkembangan negosiasi tersebut, Indonesia menargetkan tarif 0 persen untuk beberapa komoditas yang tidak diproduksi di AS. 

Selain itu, pemerintah juga menargetkan sejumlah produk yang dibutuhkan AS namun tak mungkin tersedia dalam waktu dekat tarifnya bisa lebih rendah dari 19 persen.

Baca juga : Airlangga Beberkan Isi Negoisasi Tarif Resiprokal AS, Apa Saja?

“Pakaian jadi, sepatu, karena selama ini yang dibangun di sana kan lebih kepada industri, lebih di atasnya kan,” ucap Edi.

Sebelumnya, Pemerintahan Donald Trump telah menerapkan tarif resiprokal terhadap barang-barang Indonesia sebesar 19 persen. 

Tarif tersebut merupakan hasil negosiasi yang menurunkan angka awal 32 persen dan dianggap lebih menguntungkan karena lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya, meskipun diperkirakan akan berdampak pada ekspor Indonesia. 

Hingga kini, pemerintah pun masih melobi AS untuk memperoleh pengecualian tarif terhadap komoditas ekspor tertentu seperti kakao, kopi, dan kelapa sawit. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Purbaya Beberkan Penerimaan Pajak Januari 2026 Capai Rp116,2 T, Tumbuh 30,8 Persen

Poin Penting Penerimaan pajak hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun, tumbuh 30,8 persen yoy,… Read More

32 mins ago

Andy Arslan Djunaid Mundur dari Kursi Komut JMA Syariah, Ada Apa?

Poin Penting Mochamad Andy Arslan Djunaid resmi mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama PT Asuransi… Read More

52 mins ago

IHSG Ditutup di Zona Hijau, Saham BBTN, AMMN, dan BRIS Jadi Top Gainers

Poin Penting IHSG menguat tipis 0,30 persen ke level 8.146,71 dengan nilai transaksi Rp25,74 triliun… Read More

57 mins ago

Bank Mandiri Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,07 Persen di 2025

Poin Penting Ekonomi RI 2025 diproyeksi tumbuh 5,07 persen yoy, lebih tinggi dari realisasi 2024… Read More

60 mins ago

Bank Mandiri Jalankan 1.174 Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Sepanjang 2025

Poin Penting Sepanjang 2025, Bank Mandiri merealisasikan 1.174 program TJSL di 12 wilayah Indonesia sebagai… Read More

1 hour ago

Purbaya Bersyukur per Januari 2026 Pendapatan Negara Rp172,7 Triliun, Ini Penopangnya

Poin Penting Penerimaan negara hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp172,7 triliun, tumbuh 9,8 persen yoy… Read More

2 hours ago