Poin Penting
- Kapasitas PLTS atap nasional mencapai 1,3 GW.
- Target jangka panjang energi surya dipatok hingga 100 GW.
- Potensi 760.000 lapangan kerja dari pengembangan PLTS.
Jakarta – Pemerintah bersama pelaku industri menandai tonggak penting dalam transisi energi nasional melalui pencapaian kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap sebesar 1,3 gigawatt (GW).
Capaian tersebut diumumkan dalam peluncuran yang melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PT PLN (Persero), dan Asosiasi Energi Surya Indonesia pada Selasa (21/4/2026).
Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari percepatan pengembangan energi surya nasional dan fondasi awal menuju target ambisius 100 GW dalam beberapa tahun ke depan.
Peluncuran tersebut merupakan rangkaian dari Road to IndoSolar 2026, yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, hingga mitra internasional guna mempercepat transisi energi di Tanah Air.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembangan energi surya ditargetkan mencapai 80–100 GW dalam jangka panjang.
Menurutnya, program PLTS tidak hanya berkontribusi pada peningkatan bauran energi baru terbarukan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
“Kami memperkirakan setidaknya 760.000 lapangan kerja baru dapat tercipta dari pengembangan PLTS,” ujarnya, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Baca juga: CPI Beberkan PR Besar Genjot Pembiayaan EBT di Indonesia
Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong pemanfaatan panel surya tidak hanya pada atap bangunan, tetapi juga di area darat (ground mounted), termasuk di lingkungan koperasi desa dan fasilitas publik seperti puskesmas.
PLTS Atap jadi Solusi Strategis
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia, Mada Ayu Habsari, menilai capaian 1,3 GW menunjukkan bahwa energi surya kini telah menjadi kebutuhan strategis nasional.
“Dengan ekosistem industri yang semakin matang, kami siap mempercepat implementasi PLTS dan mendukung target transisi energi Indonesia,” kata Mada.
Baca juga: Targetkan Karbon Netral 2030, TBS Beberkan Rencana Transisi Bisnis Berkelanjutan
PLTS atap dinilai menjadi solusi strategis karena bersifat modular, cepat diterapkan, dan dapat menjangkau berbagai segmen pengguna, mulai dari rumah tangga hingga industri.
Pertumbuhan Pesat dan Dukungan PLN
Dalam lima tahun terakhir, kapasitas PLTS atap nasional meningkat hampir 10 kali lipat, dari sekitar 146 megawatt (MW) pada 2024 menjadi 1,3 GW pada 2026.
Selain itu, pengembangan energi surya dinilai berkontribusi pada ketahanan energi nasional, pengurangan emisi karbon, serta mendorong pertumbuhan industri hijau dan rantai pasok domestik.
Baca juga: Listrik Padam di Sejumlah Wilayah Jakarta, PLN Ungkap Penyebabnya
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, mengatakan PLN terus mendukung kebijakan pemerintah dalam menjadikan energi surya sebagai salah satu pilar utama transisi energi.
Ia menambahkan, PLN juga menghadirkan kemudahan layanan melalui aplikasi PLN Mobile untuk pengajuan perizinan PLTS atap secara lebih cepat dan transparan.
Kolaborasi Percepat Transisi Energi
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, AESI turut menggelar forum National Solar Transition Forum 2026 yang membahas strategi pengembangan energi surya, termasuk investasi, kesiapan infrastruktur, dan penguatan pasar.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama energi bersih di kawasan ASEAN. (*)
Editor: Yulian Saputra








