Poin Penting
- BCA menyebut nasabah korporasi telah mengantisipasi kenaikan harga energi.
- Dampak mulai terasa di industri plastik akibat kenaikan bahan baku.
- Kredit BCA tumbuh 5,6% yoy menjadi Rp994 triliun pada kuartal I 2026.
Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan nasabah korporasi telah mengantisipasi lonjakan harga komoditas energi di tengah ketidakpastian global akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, kenaikan harga energi bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah menjadi risiko yang diperhitungkan sejak awal oleh nasabah.
“Ya tentu saja para nasabah kita, para debitur-debitur kita ini juga sudah pasang kuda-kuda,” ujar John dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal I 2026, Jumat, 24 April 2026.
Baca juga: BCA Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Kinerja, Ini Alasannya
Koordinasi Intensif dengan Nasabah
John menegaskan BCA terus melakukan koordinasi intensif dengan nasabah korporasi guna memastikan risiko dapat dikelola secara bersama.
“Jadi tentu saja kita bersama dengan para nasabah ini terus melakukan koordinasi dan juga koordinasi baik dengan mereka agar supaya bisa menjaga antisipasi terhadap berbagai risiko yang terjadi,” ungkapnya.
Baca juga: Kabar Gembira! BCA Siap Tebar Dividen Interim 3 Kali Setahun Mulai 2026
Meski demikian, John mengakui dampak konflik mulai dirasakan, terutama di sektor industri plastik yang mengalami kenaikan harga bahan baku. Namun, pelaku usaha dinilai masih mampu mengelola risiko tersebut dengan baik.
“Selama ini, kalau kita perhatikan, so far masih tetap terjaga dengan baik risikonya. Para nasabah ini masih menjalankan usaha dengan baik dan kita akan terus memonitor kondisinya,” ujar John.
Kredit BCA Tetap Tumbuh
Adapun Hingga kuartal I 2026, BCA berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp994 triliun atau tumbuh 5,6 persen yoy. realisasi kredit BCA utamanya ditopang oleh kredit produktif sebesar Rp760,2 triliun, atau meningkat 7,8 persen yoy. (*)
Editor: Yulian Saputra








