Poin Penting
- Pemegang saham menyetujui pembentukan Unit Usaha Syariah (UUS) Buana Finance.
- Perseroan menargetkan pembiayaan Rp4,75 triliun pada 2026 atau tumbuh 10,66 persen.
- Buana Finance fokus menggarap pembiayaan syariah B2B untuk haji, umrah, dan kendaraan.
Jakarta – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Buana Finance Tbk (BBLD) menyetujui aksi korporasi berupa perluasan kegiatan usaha dengan membentuk Unit Usaha Syariah (UUS). Langkah strategis ini diyakini akan mendongkrak kinerja Buana Finance.
Tahun ini, perseroan membidik penyaluran pembiayaan sebesar Rp4,75 triliun, atau meningkat 10,66 persen year on year (yoy), ketimbang realisasi tahun lalu sebesar Rp4,29 triliun.
UUS Buana Finance akan masuk ke bisnis pembiayaan ijarah untuk haji dan umrah, serta murabahah untuk pembiayaan kendaraan roda empat.
Baca juga: Buana Finance Dapat Fasilitas Kredit Rp500 Miliar dari BCA, Dipakai Buat Apa?
Direktur Marketing Buana Finance Herman Lesmana mengatakan, ekspansi bisnis ke segmen syariah akan difokuskan ke skema business to business (B2B). Ini juga menjadi bagian dari upaya mitigasi risiko. Segmen bisnis ini diyakini menawarkan potensi yang menjanjikan.
“Secara spiritual potensi masyarakat Indonesia yang menggunakan syariah itu sebenarnya opportunity-nya besar, cuma penggunanya masih sedikit. Penggunaanya masih 12 persen, padahal sekitar 45 persen masyarakat sudah memahami syariah,” ujar Herman dalam konferensi pers usai RUPST Buana Finance di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Ia menambahkan, dalam melakukan ekspansi pembiayaan, perseroan akan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent). Ekspansi akan dilakukan secara selektif dan terukur, baik di segmen korporasi maupun retail.
Jaga Kualitas Aset dan Efisiensi

Langkah tersebut sejalan dengan upaya perseroan menjaga kualitas aset. Tahun ini, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) ditargetkan turun ke level 2,61 persen.
Sebagai gambaran, rasio NPF pada akhir 2025 meningkat menjadi 3,12 persen, dibandingkan 1,97 persen pada akhir 2024.
Sepanjang 2025, BBLD menyalurkan pembiayaan baru di segmen pembiayaan konsumen sebesar Rp3,11 triliun. Sementara itu, segmen sewa pembiayaan dan anjak piutang berkontribusi sebesar Rp1,18 triliun.
Kenaikan piutang pembiayaan turut mendongkrak total aset perseroan menjadi Rp7,15 triliun atau tumbuh 7,72 persen secara tahunan.
Namun, kombinasi faktor internal dan tekanan eksternal, termasuk peningkatan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 44,71 persen, menekan laba bersih BBLD menjadi Rp13,48 miliar.
Baca juga: Buana Finance Targetkan Pembiayaan Rp4,15 Triliun, Begini Strateginya
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perseroan menyatakan tetap menjaga fundamental bisnis melalui pengendalian biaya yang lebih disiplin dan penerapan strategi mitigasi risiko secara konsisten.
Perseroan juga berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan portofolio bisnis, serta memperkuat strategi keuangan guna mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
RUPST Setujui Dividen dan Pengangkatan DPS
Selain menyetujui pembentukan UUS, RUPST Buana Finance juga menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 serta pembagian dividen kepada pemegang saham.
RUPST turut menyetujui pengangkatan kembali seluruh anggota Dewan Komisaris serta pengangkatan Dewan Pengawas Syariah (DPS).
Pengangkatan DPS merupakan salah satu persyaratan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pembentukan UUS. Selanjutnya, anggota DPS akan menjalani fit and proper test oleh OJK. (*) Ari Astriawan


