Poin Penting
- IHSG turun 1,49 persen ke level 6.490,91 pada perdagangan sesi I.
- Seluruh sektor melemah, dengan sektor transportasi menjadi yang turun paling dalam, 2,12 persen.
- Bursa Asia ikut tertekan di tengah ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak yang membebani sentimen pasar.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Jumat (11/9), ditutup berbalik melemah ke posisi 6.490,91 atau turun sebanyak 1,49 persen dari level 6.589,33.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan hari ini, sebanyak 20,18 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 1,23 juta kali, dan total nilai transaksi tercatat mencapai Rp8,47 triliun.
Baca juga: IHSG Diprediksi Uji 6.525, Jika Jebol Bisa Turun ke 6.400-6.460
Kemudian tercatat terdapat 521 saham terkoreksi, sebanyak 133 saham menguat dan sebanyak 131 saham tetap tidak berubah.
Seluruh Sektor Kompak Melemah
Selanjutnya, seluruh sektor juga bergerak turun, dengan sektor transportasi merosot 2,12 persen, sektor siklikal melemah 1,88 persen, sektor infrastruktur turun 1,77 persen, sektor energi merosot 1,68 persen, dan sektor bahan baku melemah 1,62 persen.
Selain itu, sektor keuangan turun 1,37 persen, sektor non-siklikal merosot 1,23 persen, sektor kesehatan dan sektor industrial melemah 1,18 persen, lalu sektor properti turun 1,01 persen, dan sektor teknologi merosot 0,65 persen.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke 6.516, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Analis
Bursa Asia Ikut Tertekan
Adapun indeks-indeks bursa Asia kompak melemah, dengan Shanghai Composite Index Shanghai tercatat turun 1,82 persen, indeks Nikkei 225 Index Tokyo merosot 2,74 persen.
Selanjutnya, Hang Seng Index melemah 0,86 persen, dan indeks KOSPI Korea mengalami koreksi sebanyak 2,74 persen.
Pilarmas Investindo Sekuritas menyampaikan bahwa pelemahan IHSG dan Bursa Asia dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak membebani sentimen.
Baca juga: IHSG Hari Ini (10/9) Anjlok 1,33 Persen, 516 Saham Berakhir di Zona Merah
Di dalam negeri, pasar tampaknya mengalihkan fokus hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli tumbuh sebesar 1,1 persen yoy, meningkat dibandingkan dengan realisasi pada Juni 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 3,0 persen yoy.
“Pencapaian ini memberikan gambaran akan permintaan konsumen yang terjaga. Pelaku pasar fokus perhatian beban APBN akan meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatnya beban subsidi energi,” tulis Manajemen Pilarmas di Jakarta, Jumat, 11 September 2026. (*)
Editor: Yulian Saputra


