Poin Penting
- Optimisme perbankan tetap terjaga dengan Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) kuartal III 2026 sebesar 56, meski ketidakpastian ekonomi global dan domestik meningkat
- Risiko perbankan masih terkendali, tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) 57. Kualitas kredit, likuiditas, alat likuid, dan DPK diproyeksikan tetap terjaga
- Kinerja perbankan diproyeksikan kuat, dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) mencapai 83. Kredit diperkirakan terus tumbuh
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat optimisme industri perbankan tetap terjaga pada kuartal III 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global dan domestik.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) yang berada pada zona optimis sebesar 56, didukung ekspektasi terhadap kinerja perbankan yang kuat serta persepsi risiko yang tetap terkendali.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan, hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) menunjukkan industri perbankan masih optimis terhadap prospek kinerja dan memiliki keyakinan untuk mengelola risiko.
“Optimisme tersebut tercermin dari proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan kemampuan bank dalam menjaga risiko tetap terkendali,” kata Dian dalam keterangannya, Jumat, 11 September 2026.
Baca juga: Soal Kabar Payroll ASN Beralih dari BPD ke Himbara, Begini Tanggapan OJK
Dian mengatakan, ekspektasi industri perbankan terhadap kondisi makroekonomi pada kuartal III 2026 secara umum terkait dinamika perekonomian dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama berkaitan dengan ekspektasi peningkatan inflasi dan suku bunga acuan global.
Persepsi industri terhadap risiko perbankan tetap berada pada zona optimis. Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat sebesar 57. Mayoritas responden meyakini kualitas kredit tetap terjaga,
Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada level rendah dengan aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valuta asing (long position), serta risiko likuiditas tetap terjaga.
Responden juga memperkirakan alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh pada kuartal III 2026.
Pertumbuhan DPK yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit turut mendorong peningkatan net cashflow perbankan.
Dari sisi kinerja, industri perbankan tetap menunjukkan optimisme yang kuat. Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) tercatat sebesar 83 atau berada pada zona optimis.
Responden memperkirakan kredit tetap tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan kredit serta ekspansi kredit melalui pipeline yang tersedia.
Lebih lanjut, industri pengolahan sebagai sektor ekonomi yang paling mendominasi penyaluran kredit perbankan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 16,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026.
“Responden memproyeksikan sektor tersebut tetap menjadi salah satu penggerak pertumbuhan kredit ke depan,” imbuhnya.
Dari sisi penghimpunan dana, responden memperkirakan DPK tetap tumbuh pada kuartal III 2026. Perbankan terus mengoptimalkan penghimpunan sumber dana untuk menopang ekspansi kredit sekaligus menjaga likuiditas.
Perbankan Mencermati Ketidakpastian Global
Seluruh responden bank umum menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang (prolonged) dan bahkan dapat disertai risiko pemburukan yang lebih dalam.
Responden menilai dinamika tersebut memiliki implikasi signifikan terhadap prospek dan kinerja perekonomian nasional ke depan.
Di tengah dinamika tersebut, berbagai indikator utama sektor jasa keuangan, khususnya perbankan, hingga saat ini tetap menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, serta likuiditas yang memadai di tengah dinamika dan ketidakpastian perekonomian global maupun domestik.
“Namun demikian, keberlanjutan kinerja perbankan memerlukan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif agar fungsi intermediasi perbankan dapat terus berjalan secara optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Dian.
Ke depan, momentum pertumbuhan ekonomi nasional perlu terus dijaga melalui berbagai upaya yang mendukung stabilitas, produktivitas, dan peningkatan daya saing.
Baca juga: Marak Serangan Siber, OJK Minta Industri Perbankan Perkuat Sistem FDS Real-Time
“Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, perbankan diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta meningkatkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan global,” pungkasnya.
Sebagai informasi, SBPO OJK kuartal III 2026 melibatkan 99 bank responden pada Juli 2026. Responden tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


