Poin Penting
- Ancaman keamanan data makin serius seiring digitalisasi dan penggunaan AI di industri keuangan, berpotensi memicu krisis kepercayaan
- Pegadaian menempatkan perlindungan data sebagai prioritas utama (“priority zero”) karena tekanan regulasi dan risiko siber yang tinggi
- Perusahaan memperkuat keamanan lewat divisi khusus IT security serta pengelolaan data internal yang lebih ketat guna menjaga kredibilitas.
Jakarta – Di tengah agresivitas perusahaan keuangan mengadopsi digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), ancaman terhadap keamanan data kini menjadi hal yang semakin serius.
Bagi industri jasa keuangan, kebocoran data bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi bisa berubah menjadi krisis kepercayaan.
Hal itu diungkapkan Head of Architecture PT Pegadaian (Persero), Ronald Hariyanto, yang menilai perlindungan data kini menjadi prioritas utama perusahaan, terutama di tengah ketatnya pengawasan regulator dan meningkatnya ancaman siber.
Baca juga: Saat AI Melaju Kencang, Perusahaan Mulai Dihadapkan Tantangan Baru
Menurut Ronald, sebagai perusahaan keuangan yang memiliki rantai pelaporan panjang, Pegadaian menghadapi tekanan kepatuhan yang tidak sederhana.
“Dulu kita BUMN, sekarang kita Danantara, dan kita juga ngelapor itu banyak banget. Ke induk, ke BRI, ke OJK, belum lagi ada BPK dan lain-lain,” ujarnya saat ditemui usai acara RedHat Day di Jakarta, Kamis (30/4).
Kompleksitas tersebut membuat isu keamanan data ditempatkan sebagai “priority zero” di internal perusahaan. Hal ini menjadi prioritas yang bahkan melampaui agenda transformasi teknologi itu sendiri.
“Karena regulasi dan ancamannya memang sangat serius. Undang-Undang PDP sudah berlaku. Kalau kita terbukti ada pelanggaran, dampaknya besar sekali,” katanya.
Bagi Pegadaian, ancaman terbesar bukan hanya kerugian finansial akibat kebocoran data, tetapi hilangnya kepercayaan publik yang selama ini menjadi fondasi bisnis lembaga keuangan.
“Nggak cuma finansial, tapi kredibilitas. Saya rasa itu yang nggak ternilai,” tegas Ronald.
Ia menilai ancaman keamanan siber kini semakin nyata seiring masifnya digitalisasi layanan keuangan dan penggunaan data dalam jumlah besar.
“Sekarang ancamannya memang di sana. Jadi kita benar-benar menjaga itu,” ujarnya.
Baca juga: Pegadaian Resmikan Kantor Cabang Luar Negeri Pertama di Timor Leste
Untuk memperkuat perlindungan data, Pegadaian disebut telah membentuk divisi khusus keamanan teknologi informasi yang bertugas mengawasi potensi ancaman dari luar sistem perusahaan.
“Kita punya satu divisi khusus untuk security. IT security itu bertanggung jawab untuk pengamanan dari sisi luar,” kata Ronald.
Tak hanya itu, pengamanan juga dilakukan dari sisi internal melalui pengelolaan data dan operasional data yang lebih ketat.
“Di dalam juga ada pengelolaan dari sisi manajemen data dan data operation untuk bagaimana meng-cover keamanan data,” imbuh Ronald. (*) Alfi Salima Puteri




