Poin Penting
- Pasar gift card Indonesia mencapai USD2,37 miliar pada 2025 dan diproyeksikan naik ke USD3,68 miliar pada 2030.
- Pertumbuhan ini diiringi meningkatnya risiko fraud pada gift card dan program loyalitas.
- Zentara menyoroti modus penipuan yang memanfaatkan celah proses bisnis, bukan peretasan sistem.
Jakarta – Industri gift card di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan hadiah digital dan program loyalitas perusahaan. Berdasarkan Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook, nilai pasar gift card nasional mencapai USD2,37 miliar pada 2025.
Angka tersebut diproyeksikan tumbuh 9,1 persen per tahun hingga mencapai USD3,68 miliar pada 2030. Dan secara global, pasar gift card diperkirakan mencapai USD1,2 triliun per tahun.
Namun, seiring meningkatnya penggunaan gift card, voucer digital, dan program loyalitas, perusahaan menghadapi tantangan yang semakin besar untuk melindungi nilai transaksi dan menjaga kepercayaan pelanggan.
Pelaku kejahatan kini tidak lagi membobol sistem, melainkan memanfaatkan celah dalam proses produksi, distribusi, hingga penukaran kartu untuk mengakses dana secara ilegal. Akibatnya, kerugian sering kali baru terdeteksi setelah muncul keluhan pelanggan atau anomali transaksi.
Baca juga: RANS Entertainment Milik Raffi-Nagita Gelar IPO, Segini Harga Saham yang Ditawarkan
Persoalan tersebut menjadi sorotan Zentara Technologies dalam Konferensi Incentive Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen, Denmark. Regal Star, CEO Zentara, menyoroti meningkatnya eksploitasi produk bernilai tersimpan di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.
Menurutnya, fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem, melainkan “menyamar” agar terlihat normal. Sayangnya, masih banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar.
“Padahal, fraud seperti pada gift card justru sulit dideteksi karena transaksinya terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari. Sistemnya tidak dibobol, sistem itu justru digunakan untuk melawan bisnis itu sendiri,” lanjut Regal, dikutip Selasa, 23 Juni 2026.
Riset Zentara mengidentifikasi sejumlah modus fraud yang mulai berkembang secara global, mulai dari pencurian saldo kartu, penggunaan identitas sintetis untuk memperoleh nilai tersimpan secara ilegal, hingga serangan rekayasa sosial berbasis kecerdasan artifisial (AI).
Modus ini, lanjut Regal, kerap menyasar pihak pengelola dan penerbit gift card. Ia menyebut, alih-alih hanya berfokus pada kerentanan teknologi, fraud modern semakin mengeksploitasi proses bisnis dan perilaku manusia.
“Seiring AI menekan biaya operasional penipuan, organisasi perlu mengantisipasi bahwa para pelaku ancaman akan terus menyasar jalur yang paling efisien untuk menghasilkan keuntungan finansial,” tegasnya.
Ancaman Fraud Kian Kompleks
President dan Co-Founder Zentara Technologies, Darian Kuswanto, menyebut banyak organisasi masih menggunakan pendekatan lama dalam menilai risiko fraud.
“Salah kaprah yang umum adalah menyamakan keamanan dengan tidak adanya pelanggaran. Kasus fraud paling signifikan justru sering kali lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah,” bebernya.
Baca juga: Fraud Masih Hantui Industri BPR, LPS Tekankan Pentingnya Penguatan Tata Kelola
Untuk menghadapi ancaman ini, Zentara menyarankan untuk memantau pola penukaran dan melacak kecepatan dari aktivasi hingga penukaran. Selain itu, penting juga melatih staf untuk mengenali rekayasa sosial berbasis AI. Karyawan yang menerbitkan, mengganti, atau mengelola gift card kini berada di garis terdepan pertahanan terhadap fraud. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


