Poin Penting
- Palo Alto Networks: AI buka peluang bisnis tapi juga tingkatkan risiko siber, sehingga keamanan harus jadi prioritas utama
- Riset Unit 42: 25 persen serangan 2025 tembus eksfiltrasi data dalam ~1 jam, makin cepat dari sebelumnya
- Sistem keamanan terfragmentasi perlu dikonsolidasikan agar respons lebih cepat dan AI tetap aman digunakan.
Jakarta — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai membuka peluang luas bagi pelaku usaha, namun di saat yang sama menghadirkan risiko keamanan siber yang semakin kompleks dan cepat.
Hal itu disampaikan Palo Alto Networks dalam ajang Ignite on Tour Jakarta yang digelar di Jakarta. Perusahaan keamanan siber global tersebut menekankan pentingnya menjadikan keamanan sebagai bagian inti dari transformasi digital berbasis AI.
Dalam pemaparannya, Palo Alto menyebut era agentic AI membuat penggunaan agen AI semakin meluas di berbagai lini bisnis, mulai dari layanan pelanggan hingga sistem backend dan aplikasi.
Baca juga: AI Ubah Lanskap Ancaman Siber Industri Perbankan
Namun, kondisi ini juga menciptakan paradoks. AI tidak hanya menjadi pendorong inovasi, tetapi juga dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melancarkan serangan siber dengan kecepatan, presisi, dan skala yang lebih besar.
Berdasarkan riset Unit 42, tim intelijen ancaman dari Palo Alto Networks, sekitar 25 persen insiden keamanan tercepat pada 2025 mampu mencapai tahap eksfiltrasi data dalam waktu sedikit lebih dari satu jam. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan rata-rata 4,8 jam pada tahun sebelumnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan keamanan yang terfragmentasi tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman berbasis AI. Kompleksitas sistem justru berpotensi memperlambat respons organisasi terhadap serangan siber.
Managing Director and Vice President ASEAN Palo Alto Networks, Haji Munshi, mengatakan saat ini organisasi rata-rata menggunakan 83 alat keamanan dari 29 penyedia berbeda.
“Dengan permukaan serangan yang terus berkembang, organisasi di Indonesia harus bertindak sekarang atau berisiko tertinggal dari para penyerang yang bergerak dengan kecepatan mesin,” ujarnya, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Baca juga: Bukan Soal Investasi Keamanan Siber, Ini Penyebab Data Nasabah Masih Rawan Dibobol
Menurutnya, konsolidasi sistem keamanan menjadi langkah yang tidak terhindarkan untuk membangun pertahanan siber yang kuat dan responsif.
Ia menambahkan, Palo Alto Networks saat ini memproses sekitar 500 miliar kejadian dan menghentikan 30 miliar serangan setiap hari. Kapabilitas tersebut diklaim mampu mengimbangi laju inovasi AI yang berkembang pesat.
Ia juga menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi digital Indonesia, sejalan dengan kebijakan pemerintah seperti Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial.
Ke depan, kata Haji, pertanyaan bagi pelaku usaha bukan lagi apakah akan mengadopsi AI, melainkan seberapa cepat mereka mampu mengamankan teknologi tersebut untuk bersaing di pasar.
“Dengan dukungan teknologi yang tepat, pelaku usaha termasuk UMKM dapat tetap kompetitif di tingkat global sekaligus berinovasi secara aman,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama








