Perlu komitmen menyeluruh dari sektor jasa keuangan untuk tidak membiayai perusahaan atau sektor yang merusak lingkungan dan hanya mengandalkan profit saja.
“Tetunya ini tidak mudah, tapi dari yang dipelajari tidak cukup hanya melihat amdal saja. Belajar dari Tiongkok mereka sudah memasukkan sustainable finance itu, karena dampak lingkungan yang terjadi di sana sudah demikian besar. Pertumbuhan ekonomi mereka yang tinggi berdampak besar bagi lingkungan,” tukasnya.
(Baca juga: Uji Coba Bank Berkelanjutan Sukses)
Makanya ke depan, pihaknya akan mengatur agar pembiayaan atau kredit bank yang disalurkan kepada perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor sosial dan lingkungan. Bahkan industri asuransi juga didorong untuk tidak memberikan jaminan aset kepada perusahaan yang merusak lingkungan. (*) Dwitya Putra
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting Pengguna MADINA naik 13% menjadi lebih dari 13.700, dengan frekuensi transaksi mencapai 2… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More
Poin Penting PKSS menargetkan pertumbuhan dengan memperluas pasar di luar BRI Group, membidik total 360… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More