Poin Penting
- OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga meski ketegangan Timur Tengah kembali memanas, harga minyak naik, dan prospek ekonomi global melemah
- OJK mencatat konflik Timur Tengah, tarif baru AS, dan tingginya premi risiko global masih membayangi pasar keuangan, namun kondisi sektor keuangan domestik tetap stabil
- Di dalam negeri, inflasi Juli 2026 melandai ke 2,88 persen, aktivitas manufaktur kembali ekspansif, dan konsumsi kelas menengah atas tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan terjaga di tengah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong melonjaknya harga minyak dunia.
“Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menyusul gagalnya genjatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di awal Juli lalu,” ujar Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan OJK dalam konferensi pers RDKB, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selanjutnya, kata Kiki sapaan akrab Friderica, Dana Moneter internasional (IMF) pada Juli 2026 merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen tahun ini, sebagai dampak perang yang berkepanjangan.
“Namun, perkembangan investasi AI (Artificial Intelligence) menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global,” tambahnya.
Baca juga: Bos OJK: Pasar Modal RI Mulai Pulih pada Awal Kuartal III 2026
Di sisi lain, kata Kiki, AS mengeluarkan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang untuk menggantikan tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli 2026.
“Melonjaknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut,” tambahnya.
Lebih jauh Kiki menjelaskan, indikator perekonomian global mengalami divergensi antara negara dan aktivitas manufaktur di negara maju menunjukkan perbaikan lebih kuat. Sementara pertumbuhan manufaktur di negara berkembang relatif terbatas.
Di AS, inflasi termoderasi terbatas dengan aktivitas ekonomi relatif stabil. Semenara pertumbuhan ekonomi di Tiongkok pada kuartal II 2026 menunjukkan level terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah, namun ekspor tetap menjadi penopang utama. Selain itu, di Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan.
Baca juga: Bos OJK: Himbara Sudah Siapkan Likuiditas Jelang Penarikan Dana SAL Akhir 2026
“Pasar keuangan global bergerak mix di tengah kembali tereskalasi konflik di Timur Tengah. Outflow non-residen di pasar keuangan global kembali terjadi meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi,” ungkapnya.
Dari domestik, kata Kiki, tekanan harga mereda dengan inflasi pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen yoy. Permintaan menunjukkan pola konsumsi kelompok memengah atas tetap solid.
“Sementara aktivitas manufaktur di Juli 2026 kembali memasuki zona ekspansi,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama


