Poin Penting
- OJK mencatat IHSG berbalik menguat 10,51 persen pada Juli 2026 setelah terkoreksi pada kuartal II 2026
- Penghimpunan dana pasar modal mencapai Rp113,13 triliun, sementara kredit perbankan tumbuh 12,67 persen yoy
- Stabilitas sektor keuangan tetap terjaga, ditopang pasar modal yang pulih dan perbankan yang tetap solid.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pasar modal domestik memasuki fase konsolidasi pada kuartal II 2026. Meski demikian, kinerja pasar mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada awal kuartal III 2026, seiring meredanya tekanan akibat ketidakpastian global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.643,19 pada akhir kuartal II 2026 atau terkoreksi 19,93 persen secara kuartalan (qtq). Pelemahan tersebut dipengaruhi tingginya ketidakpastian global serta penyesuaian (rebalancing) portofolio investor.
“Memasuki bulan Juli 2026, indeks menunjukkan arah pemulihan dan per 31 Juli 2026 IHSG ditutup pada level 6.236,13 atau menguat 10,51 persen mtd,” ucap Kiki, sapaan akrab Friderica Widyasari Dewi dalam Konferensi Pers KSSK di Jakarta, 3 Agustus 2026.
Baca juga: Investor Bakal Cermati 4 Katalis Penggerak Pasar Saham, Ini Rinciannya
Kiki menambahkan, kinerja industri pengelolaan investasi juga tetap terjaga. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana pada akhir kuartal II 2026 tercatat mencapai Rp652,90 triliun.
Memasuki Juli 2026, tren positif tersebut berlanjut. Hingga 30 Juli 2026, NAB reksa dana meningkat menjadi Rp663,26 triliun atau tumbuh 1,59 persen secara kuartalan.
“Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal tetap terjaga. Pasar modal domestik tetap menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha,” imbuhnya.
Hingga 31 Juli 2026, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp113,13 triliun secara year-to-date (ytd). Capaian tersebut ditopang tingginya minat korporasi melakukan pendanaan melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) yang mencapai Rp98,27 triliun.
Sektor Perbankan Solid
Sementara di sektor perbankan, OJK juga mencatat fungsi intermediasi tetap berjalan solid dengan profil risiko yang terjaga. Penyaluran kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp9.080,9 triliun.
“Didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 24,90 persen yoy dan diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 8,94 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,75 persen yoy,” ujar Kiki.
Kualitas aset perbankan juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,09 persen, sementara NPL net berada di level 0,82 persen. Adapun Loan at Risk (LaR) relatif stabil di level 8,47 persen.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,21 persen yoy menjadi Rp10.281,8 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan giro sebesar 9,95 persen yoy, tabungan 8,25 persen yoy, dan deposito 12,16 persen yoy.
Baca juga: BI Catat DPK Valas Bank Capai Rp1.606,2 Triliun per Juni 2026
Dari sisi permodalan, industri perbankan masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) pada Juni 2026 tercatat sebesar 23,70 persen.
Likuiditas perbankan juga tetap memadai. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,32 persen, sedangkan rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing tercatat sebesar 101,92 persen dan 23,08 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. (*)
Editor: Galih Pratama


