Poin Penting
- AUM OCBC NISP tumbuh 29 persen menjadi Rp120 triliun sepanjang 2022-2025
- Transaksi digital wealth management OCBC NISP naik 44 persen pada 2025
- OCBC NISP mengandalkan diversifikasi aset untuk menghadapi volatilitas pasar.
Jakarta – Layanan wealth management PT Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan kinerja double digit dalam beberapa tahun terakhir. Asset under management (AUM) OCBC NISP tumbuh 29 persen sepanjang 2022 hingga 2025 menjadi Rp120 triliun.
AUM tersebut mencakup berbagai produk investasi, mulai dari reksa dana, obligasi, asuransi, forex, hingga emas. Sepanjang 2025, OCBC NISP juga membukukan pertumbuhan transaksi digital produk wealth management sebesar 44 persen.
Dari total transaksi tersebut, sekitar setengahnya berasal dari transaksi obligasi yang dilakukan secara digital.
Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole, mengatakan pertumbuhan bisnis wealth management tidak terlepas dari strategi diversifikasi investasi yang diterapkan perseroan dalam mengelola dana nasabah, terutama di tengah kondisi ekonomi yang semakin volatil.
Baca juga: OCBC Optimistis Bisnis Wealth Management Tetap Moncer di Tengah Volatilitas Pasar
“Hal yang perlu kita lihat adalah pendekatan kita saat kita melakukan investasi, dimana kita bisa melakukannya dengan model portfolio. Jadi, investasi yang kita lakukan itu berlandaskan pada aset (instrumen) yang berbeda-beda,” ujar Diamond saat media gathering di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, pemilihan instrumen investasi tetap disesuaikan dengan profil masing-masing nasabah. Dalam hal ini, peran relation manager (RM) dinilai sangat penting sebagai penghubung antara tujuan investasi nasabah dengan strategi investasi yang tepat untuk mencapai target tersebut.
Strategi diversifikasi tersebut juga dinilai efektif dalam menjaga pengelolaan asset under management di tengah kondisi ekonomi yang penuh volatilitas dan ketidakpastian global.
“Jadi, saat kondisi market mungkin sekarang lagi tak stabil, dia bisa menunjukkan yang satu korelasinya lagi negatif. Yang satu lagi kondisi naik, yang satu lagi kondisi turun. Jadi, kita bisa lihat semua aset investasi ini saling menyeimbangkan,” jelasnya.
Diamond menambahkan, emas menjadi salah satu instrumen yang dinilai mampu memberikan penyeimbang portofolio ketika pasar saham mengalami tekanan.
“Bila kita lihat contoh seperti sekarang, yang paling bagus mungkin bisa jadi bukan equity, tapi yang paling bagus di emas. Nah, kebetulan di kita itu emas itu masuk dalam portfolio juga, jadi kita bisa saling menyeimbangkan,” sambung Diamond.
Ia menegaskan bahwa setiap instrumen investasi memiliki performa berbeda ketika dihadapkan pada tekanan geopolitik global.
Baca juga: Caplok Bisnis HSBC, OCBC Bidik Pertumbuhan Wealth Management di RI
Di sisi lain, Direktur Bank OCBC NISP, Johannes Husin, menilai kondisi volatilitas saat ini perlu menjadi pembelajaran bagi seluruh stakeholders, termasuk nasabah dan konsumen.
Menurut Johannes, kondisi pasar saat ini tergolong unik karena volatilitas dipicu oleh beberapa sentimen sekaligus, mulai dari penurunan peringkat pasar modal Indonesia oleh MSCI hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ia juga menyoroti sejumlah instrumen investasi domestik yang mampu memberikan imbal hasil hingga 6 persen sebagai sentimen positif untuk menarik minat masyarakat kembali berinvestasi di dalam negeri.
“Artinya, pihak perbankan, pihak regulator harus melihat bahwa harta yang tumbuh di negara Indonesia ini bisa diinvestasikan ke dalam produk-produk dalam negeri, dan ini untuk penumbuhan negara kita,” tandas Johannes.
Steven Widjaja


