Poin Penting
- Laporan Nutanix ECI 2026 mengungkap 73 persen infrastruktur TI sektor publik belum siap mendukung workload AI yang kompleks, meski adopsinya terus meningkat
- Sebanyak 91 persen pemimpin TI menilai penggunaan shadow AI berisiko terhadap keamanan dan tata kelola
- Nutanix menilai modernisasi infrastruktur hybrid dan penguatan tata kelola menjadi kunci agar implementasi AI di sektor publik berjalan aman, optimal, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Jakarta – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor publik terus meningkat, seiring upaya pemerintah dan institusi pendidikan memodernisasi layanan.
Namun, kesiapan infrastruktur teknologi informasi (TI) dinilai masih menjadi tantangan utama dalam mendukung implementasi AI yang semakin kompleks.
Hal itu terungkap dalam laporan Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 Public Sector yang dirilis Nutanix. Survei tersebut menunjukkan organisasi sektor publik, mulai dari instansi pemerintah pusat dan daerah hingga institusi pendidikan, semakin mengintegrasikan AI ke berbagai proses operasional, seperti penentuan kelayakan penerima manfaat, deteksi fraud, hingga peningkatan layanan publik.
Meski demikian, riset tersebut menemukan bahwa 73 persen infrastruktur TI di sektor publik saat ini belum siap menjalankan workload AI yang kompleks di lingkungan on-premises.
Hambatan lainnya meliputi keterbatasan kesiapan SDM, tata kelola, hingga sistem lama (legacy system) yang masih mendominasi.
Baca juga: Serangan Siber Mengintai, ITSEC Asia-PT INTI Perkuat Sistem Keamanan Digital Nasional
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan AI juga memunculkan risiko baru berupa shadow AI, yakni penggunaan aplikasi AI tanpa pengawasan atau persetujuan resmi organisasi.
Sebanyak 91 persen pemimpin TI di instansi pemerintahan dan pendidikan yang menjadi responden menilai penggunaan AI yang tidak terverifikasi dapat mengancam keamanan serta pencapaian misi organisasi.
Laporan tersebut juga menunjukkan tren percepatan modernisasi aplikasi. Sebanyak 87 persen pemimpin teknologi di sektor publik memperkirakan ketergantungan terhadap containerization akan terus meningkat dalam tiga tahun ke depan.
Teknologi ini dinilai mampu menghadirkan aplikasi yang lebih cepat, mudah diskalakan, sekaligus meningkatkan keamanan workload AI.
Chief Technology Officer dan Vice President of Solution Engineering APJ Nutanix, Daryush Ashjari, mengatakan tantangan utama sektor publik kini bukan lagi sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan kesiapan operasional dan tata kelola yang memadai.
“Semakin meluasnya penggunaan AI yang belum terverifikasi atau shadow AI telah menjadi tantangan utama dalam aspek tata kelola di public sector. Organisasi yang berhasil melangkah maju adalah mereka yang tidak lagi mengejar setiap kemampuan baru AI secara terpisah, melainkan berfokus pada penguatan fondasi infrastrukturnya,” ujar Daryush dikutip 27 Juli 2026.
Menurutnya, pembangunan arsitektur berbasis kontainer yang aman menjadi fondasi penting agar organisasi dapat memanfaatkan AI secara optimal tanpa mengorbankan keamanan data maupun kepercayaan publik.
Baca juga: Riset Akamai: Serangan Bot ke Perdagangan Digital APAC Melonjak 63 Persen
Nutanix menilai sektor publik saat ini berada pada fase krusial transformasi digital. AI telah digunakan secara luas di berbagai layanan pemerintahan dan pendidikan, namun pengelolaan infrastruktur masih menghadapi tantangan akibat keberadaan sistem on-premises, private cloud, serta proses migrasi dari sistem lama ke cloud modern yang kerap berjalan tanpa kontrol terpadu.
Karena itu, para pemimpin TI di sektor publik dituntut membangun infrastruktur hybrid yang modern dan terintegrasi.
Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk memastikan workload AI yang berkaitan dengan layanan masyarakat, keselamatan publik, hingga sektor pendidikan dapat berjalan dengan kinerja optimal, tetap memenuhi regulasi, serta menjaga kedaulatan data di setiap titik layanan. (*)


