Poin Penting
- AI membuat modus fraud semakin canggih, dengan pelaku mampu memalsukan data dan dokumen perbankan secara presisi sehingga sulit dibedakan dari yang asli
- Adopsi AI di sektor keuangan belum diimbangi tata kelola dan manajemen risiko yang memadai, sehingga celah keamanan semakin besar di tengah perkembangan Generative AI dan Agentic AI
- Industri keuangan dituntut mempercepat respons terhadap fraud berbasis AI, melalui sistem deteksi yang dinamis, pembaruan teknologi berkelanjutan, dan penguatan kolaborasi
Jakarta – Kejahatan sektor keuangan memasuki babak baru yang kian mengancam. Bukan lagi sekadar main sunting dokumen secara amatir, pelaku penipuan atau fraudster, kini memanfaatkan presisi algoritma AI untuk memalsukan data bank hingga persis seperti aslinya.//
Menyikapi eskalasi ancaman yang kian kompleks tersebut, Infobank bersama Simplifa.ai meggelar forum bertajuk “Infobank & Simplifa.ai Executive Forum bertajuk From Risk to Resilience: How AI is Redefining Credit Strategy in an Era of Fraud and Uncertainty, yang berlangsung di JW Marriott Jakarta pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten, yakni Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Isabella Wattimena yang hadir secara daring, Aditya Mahendra Manajer Madya dari Direktorat penanganan aktivitas keuangan ilegal dan penipuan Transaksi Keuangan OJK, Thomas Airlangga Chief Risk Officer and Credit Head Standard Chartered Bank Indonesia, Gema Buana Putra CEO dan Co-Founder Simplifa.ai, Dr. Bayu Prawira Hie selaku Konsultan Manajemen, Pakar Digital, dan Presiden Direktur Indonesia Open Network (ION).
Baca juga: OJK Dorong Regulasi Adaptif di Tengah Pesatnya Inovasi Keuangan Digital
Dalam kesempatan itu, Sophia Isabella Wattimena mengatakan bahwa perkembangan AI telah bergerak dari traditional AI menuju Generative AI hingga Agentic AI. Saat ini, sekitar 23 persen perusahaan disebut telah menggunakan Agentic AI. Dalam dua tahun ke depan, angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 70 persen.
Masalahnya, percepatan adopsi itu belum diimbangi kesiapan tata kelola. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan teknologi yang semakin maju dan kemampuan organisasi dalam mengidentifikasi, mengendalikan, serta mengantisipasi risiko yang muncul.
“Artinya kemampuan teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi itu sendiri untuk mengelolanya,” ujar Sophia.
Sementara, Thomas Airlangga mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah secara drastis cara pelaku melakukan fraud yang sebelumnya dapat ditelusuri dari dokumen fisik atau aplikasi yang dimanipulasi, kini pelaku beroperasi tanpa tatap muka dan memanfaatkan data yang tersebar di berbagai kanal.
“Sekarang fraud-nya sudah tidak kelihatan, tidak ada aplikasinya, semuanya digital. Dari tatap muka ke tanpa muka, kemudian dari dokumen ke data dan dari kejadian ke skala,” ungkap Thomas.
Menurut Thomas, perubahan itu membuat pekerjaan manajemen risiko semakin kompleks. Fraud yang dahulu dapat ditangani sebagai kejadian individual kini bisa berkembang menjadi serangan berskala besar sebelum institusi menyadarinya. Risikonya pun meluas menyasar risiko kredit, siber, pencucian uang, hingga risiko reputasi. Pelaku bahkan dapat berada di luar wilayah Indonesia, sementara korbannya berada di dalam negeri.
Adapun, Direktur Utama Simplifa.ai Gema Buana Putra menjelaskan, perubahan modus fraud yang makin canggih membuat industri keuangan menghadapi perlombaan teknologi dengan pelaku kejahatan. Karena itu, perusahaan harus membuat sistem deteksi yang terus berkembang.
Ia mengatakan, Simplifa.ai yang beroperasi dengan model Software as a Service (SaaS) terus memperbaharui sistem berdasarkan pola fraud baru yang ditemukan dari klien dan perkembangan perilaku transaksi.
Baca juga: OJK Sesuaikan Batas Pendanaan 3 Fintech Pindar, Ini Alasannya
Sebab, perubahan kebijakan bank, biaya administrasi, pola bank fee, hingga karakteristik dokumen dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Kita sekarang juga berhadapan sama fraudster yang pakai AI. Maka kita tidak bisa lagi perang pakai tangan kosong. Karena itu, sistem yang dibangun hari ini tidak bisa dibiarkan bekerja dengan pola yang sama selama bertahun-tahun,” terang Gema.
Pertarungan ini bukan lagi soal adu canggih teknologi, melainkan kecepatan respons. Di tengah gempuran fraudster berbasis algoritma, adopsi AI analitis dan pembaruan sistem secara dinamis menjadi satu-satunya perisai mutlak demi menjaga integritas serta benteng pertahanan sektor keuangan. (*) RAL


