Oleh Sawidji Widoatmodjo, Chief Economist Economics-Business Research and Consulting Services (ECBIS Rescons), Pengajar Pascasarjana FEB Untar
Judul Buku : Managing Strategic Waves: Turnaround and Sustain Company’s Performance
Penulis : Alexander Tan
Penerbit : PT Infoarta Pratama (Infobank Publishing)
Cetakan : I, Agustus 2026
Tebal : xxii + 240 halaman
ISBN : 978979-8338-36-6
KALAU judul resensi ini terkesan straight to the point, benar adanya. Buku ini memang langsung menghunjam ke pokok masalah yang ingin disampaikan: memberi rumus strategi pengelolaan perusahaan pembiayaan (multifinance). Tentu melalui sequence, sebagaimana layaknya sebuah buku.
Bagi pembaca yang ingin langsung mendapatkan poin yang ingin disampaikan, buku ini dapat memenuhi keinginan itu. Tapi, bagi pembaca yang ingin mendapatkan wawasan yang lebih mendalam atau mendapatkan analisis yang lebih akademis, buku ini bukan pilihan.
Jadi, jelas siapa segmen pembaca yang pantas membuka halaman demi halaman buku ini. Tapi, bukan berarti kaum yang mengutamakan kedalaman berpikir dapat begitu saja mengabaikan buku ini. Bagi kelompok ini, buku ini dapat menjadi komplementar, atau malah menjadi triger untuk memuaskan/melanglangbuanakan kehausan mereka dalam mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
Kalau disoal mengapa konten dan format penyampaian sampai seperti ini, hal itu tidak bisa dilepaskan dari orang-orang di balik lahirnya buku ini. Penulisnya memiliki berprofesi ganda: seorang profesional dan juga akademisi. Sebagai profesional, penulis adalah CEO perusahaan pembiayaan yang cukup besar. Sebagai akademisi, penulis buku ini merupakan dosen yang serius.
Baca juga: Resensi Buku: Branchless Banking dan Rahasia Sukses Agen Bank
Kombinasi dari “pekerjaan” ini mestinya bisa menghadirkan sajian buku yang lebih berbobot, baik dari sisi konten maupun filosofis. Namun, seperti telah disampaikan di awal, buku ini tidak dipersiapkan untuk kepentingan seperti itu.
Meski demikian, bukan berarti pembaca tidak akan mendapatkan legitimasi ilmiah, sehingga mengurangi kesahihan konten. Penulisnya tetap melengkapi landasan ilmiah melalui teori-teori yang cukup fasih disampaikan. Hal ini tidak mengherankan, karena memang penulisnya adalah seorang dosen.
Jadi, lengkapnya, setiap topik yang disajikan didahului dengan teori, baru kemudian disusul dengan gagasan penulis. Yang menjadikan buku ini justru memiliki nilai lebih, gagasan yang disampaikan itu merupakan pengalaman dari praktik penulis memimpin perusahaan pembiayaan.
Seakan-akan pembaca adalah seorang mahasiswa yang diberi kuliah tentang teori topik tertentu, kemudian diberi contoh dari praktik. Hanya, dalam perkuliahan, belum tentu contoh praktik itu berasal dari dosen pengajar teori tadi. Tapi, di buku ini, contoh praktik itu langsung dari penulisnya sendiri.
Dalam topik level strategi, misalnya, penulis memulainya dengan menjelaskan teori strategi level korporasi (hal 67). Seperti di content textbook Strategic Management, penulis menyampaikan tiga level strategi (level korporasi, level business unit, dan levelfungsional), secara literal.
Nah, di setiap selesai menyampaikan masing-masing level itulah penulis mulai mengintroduksi pengalaman praktik yang dia lakukan selama memimpin perusahaan pembiayaan, sehingga tidak terjadi keterputusan antara teori dan praktik.
Dalam strategi korporasi, misalnya, setelah menjelaskan secara teoretis strategi pemulihan (teori strategi korporasi ada tiga: pemulihan – bagian dari retrenchment, expansion, dan stabilization), penulis menyajikan bagaimana sebagai CEO memilih dan mengeksekusi serta menjalankan strategi pemulihan di perusahaan pembiayaan. Salah satunya adalah melakukan pengetatan biaya yang dikategorikan biaya buruk (bad cost), yaitu biaya yang tidak bisa diukur manfaat pengeluarannya pada pendapatan dan nilai perusahaan.
Yang juga menjadi nilai lebih dari buku ini, editornya adalah seorang wartawan senior dan pemimpin redaksi majalah perbankan dan keuangan. Latar belakang editornya menjadikan gaya penulisan buku ini mengikuti gaya jurnalistik, terutama spot news. Ditambah dengan gaya bahasa yang mendekati bertutur.
Itulah mengapa pembahasan ini dapat dikatakan straight to the point, mudah dipahami, dan nyaman dibaca. Apalagi gaya penulisannya storytelling. Pengalaman penulis dalam menangani perusahaan yang terpuruk disampaikan secara kronologis, sehingga membuat buku ini seperti kisah hidup.
Awal bab dibuka dengan kisah penulis bergabung dengan perusahaan pembiayaan yang dia pimpin sekarang ini. Dikisahkan, betapa dia terkejut ketika mendapati kenyataan perusahaan itu dalam kondisi terpuruk.
Meskipun ada penyesalan karena meninggalkan perusahaan sebelumnya yang kinerjanya moncer, dia tidak larut. Justru keterpurukan perusahaan itulah yang membuka kesempatan baginya untuk menerapkan strategi korporasi turnaround, di awal kariernya. Kisah lainnya ialah tidak ditemuinya budaya positif di perusahaan sehingga menyulitkan untuk mengimplementasikan strategi yang sudah dipilih.
Kelebihan lain dari buku ini ialah materi disampaikan mengikuti sequence textbook Strategic Management, yang dimulai dari analisis lingkungan kemudian diakhiri dengan evalusi strategi. Dengan penyajian seperti itu, buku ini terkesan textbook Strategic Management untuk perusahaan pembiayaan.
Namun, seperti sudah disampaikan, kesan textbook tersebut segera hilang setelah sampai pada lembar demi lembar isi buku yang secara straight to the point memberi tip bagaimana menyusun, mengimplementaskan, dan mengeksekusi strategi manajemen untuk perusahaan pembiayaan (hal 92-136). Apalagi cara penulisan bergaya storytelling dengan materi kisah penulisnya.
Baca juga: Resensi Buku: Menyelami Cara Berpikir dan Bertindak Ignasius Jonan
Memang, akan lebih bagus lagi kalau buku ini dilengkapi hasil-hasil riset akademik yang relevan dengan topik-topik yang dibahas. Meski penyajian teori sudah cukup memberi bobot buku ini, namun itu baru sampai tahap necessary. But not enough.
Berikutnya, akan lebih fungsional lagi kalau pengalaman praktik yang disajikan bukan hanya yang lazim dilakukan, tetapi yang kreatif, out of the box, atau malah in new boxes. Misalnya, ketika menjalankan strategi cost leadership, praktik yang dipilih adalah menerapkan bunga bersaing – baca: murah, proses cepat, dan fleksibel (hal 151).
Praktik seperti itu bukankah hal yang biasa dilakukan semua bisnis? Meski begitu, perlu diapresiasi, bisa mengeksekusi strategi saja bukan pekerjaan mudah. Apalagi mendokumentasikannya menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati masyarakat luas. Syukur-syukur tip-tip yang ada bisa turut memajukan perusahaan pembiayaan di Indonesia.


