Poin Penting
- Maybank Indonesia mencatat PBT Rp397 miliar pada kuartal I 2026, ditopang pertumbuhan pendapatan bunga dan penurunan pencadangan
- Dana pihak ketiga tumbuh 6,1 persen, dengan rasio CASA naik menjadi 61,2 persen dan kualitas aset membaik
- Perbankan Syariah mencetak kinerja gemilang, dengan PBT melonjak 52,1 persen menjadi Rp226 miliar.
Jakarta – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) membukukan laba sebelum pajak (Profit Before Tax/PBT) sebesar Rp397 miliar pada kuartal I 2026. Sementara itu, laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) tercatat sebesar Rp299 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, Maybank Indonesia membukukan Gross Operating Income (GOI) sebesar Rp2,22 triliun. Kinerja tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1,81 triliun.
Peningkatan NII didorong oleh penurunan beban bunga dan optimalisasi struktur pendanaan, sehingga mampu menjaga Net Interest Margin (NIM) tetap stabil di level 4,3 persen.
Di sisi lain, pendapatan non-bunga (Non-Interest Income/NOII) mengalami penurunan 29,6 persen menjadi Rp402 miliar. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh menyusutnya pendapatan trading Global Markets (GM) menjadi Rp20 miliar dari sebelumnya Rp107 miliar, seiring meningkatnya volatilitas pasar akibat ketegangan geopolitik global.
Baca juga: Aset Dekati Rp50 Triliun, Bos Maybank Syariah Buka-bukaan Soal Spin Off
Meski pendapatan non-bunga tertekan sehingga menyebabkan PBT turun 21,5 persen yoy, fundamental bisnis inti perseroan tetap terjaga. Hal ini tercermin dari penurunan beban pencadangan sebesar 47,9 persen menjadi Rp123 miliar, didukung oleh perbaikan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko yang prudent.
Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan Maybank Indonesia relatif stabil di level Rp121,99 triliun. Segmen Community Financial Services (CFS) ritel dan non-ritel mencatat pertumbuhan 5,4 persen menjadi Rp88,33 triliun.
Secara rinci, kredit non-ritel CFS tumbuh 7,1 persen menjadi Rp39,89 triliun, ditopang oleh segmen Business Banking yang melonjak 15,6 persen menjadi Rp17,46 triliun. Sementara itu, kredit ritel CFS meningkat 4,1 persen, didukung pertumbuhan pembiayaan otomotif anak usaha sebesar 7,4 persen.
Sebaliknya, portofolio korporasi Global Banking (GB) mengalami penurunan 12,4 persen sejalan dengan strategi rebalancing portofolio yang dijalankan perseroan.
Di sisi pendanaan, simpanan nasabah tumbuh 6,1 persen yoy menjadi Rp118,35 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan dana giro sebesar 37,5 persen. Pada saat yang sama, perseroan mengurangi porsi deposito berjangka sebesar 12,3 persen guna memperkuat struktur dana murah.
Strategi tersebut mendorong rasio Current Account Saving Account (CASA) meningkat signifikan menjadi 61,2 persen, dibandingkan 53,0 persen pada Maret 2025.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross turun menjadi 2,3 persen, sementara NPL net berada di level 1,4 persen.
Sementara itu, unit Perbankan Syariah Maybank Indonesia mencatatkan kinerja yang lebih impresif. PBT Perbankan Syariah melonjak 52,1 persen menjadi Rp226 miliar dari Rp149 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan total pembiayaan syariah sebesar 10,4 persen menjadi Rp32,23 triliun. Pembiayaan syariah pada segmen CFS tumbuh 10,4 persen menjadi Rp23,16 triliun, sedangkan pembiayaan syariah pada segmen GB meningkat 10,3 persen menjadi Rp9,07 triliun.
Saat ini, bisnis syariah berkontribusi sekitar 30,2 persen terhadap total portofolio pembiayaan Maybank Indonesia.
Baca juga: Bidik Pasar Haji dan Umrah, Maybank Indonesia Hadirkan Amanah Pro
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan kondisi pasar pada kuartal pertama tahun ini masih dibayangi eskalasi geopolitik dan tingginya volatilitas pasar keuangan global.
“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal,” ujar Steffano dalam keterangan resmi, dikutip Minggu, 31 Mei 2026.
“Ke depan, kami akan terus berupaya dalam menangkap peluang pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank serta, di saat yang sama, memperkuat bisnis inti sejalan dengan strategi ROAR30 Maybank Group,” imbuhnya.
Senada, Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menilai langkah penguatan fundamental yang dilakukan perseroan telah sejalan dengan arah strategis jangka panjang grup.
“Dari segi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental merupakan hal yang tepat sejalan dengan arah strategis ROAR30 yang telah kami canangkan di Maybank Group,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


