Poin Penting
- Total kredit Maybank Indonesia naik 3,8 persen menjadi Rp126,28 triliun.
- Laba bersih meningkat 21,2 persen menjadi Rp698 miliar.
- Rasio CASA naik ke 63,6 persen, sementara kualitas aset tetap terjaga.
Jakarta – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) atau Maybank Indonesia mencatatkan pertumbuhan total kredit Bank 3,8 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp126,28 triliun hingga 30 Juni 2026.
Lebih lanjut, dari sisi Kredit Global Banking (GB) Bank tumbuh 5,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp54,98 triliun.
Capaian itu didorong oleh pertumbuhan yang kuat pada segmen GB Large Local Corporates (LLC) yang naik 18,0 persen, sementara kredit Business Banking tumbuh 24,3 persen.
Kemudian untuk kredit ritel dan non-ritel yang dikelola melalui Community Financial Services (CFS) tumbuh 2,9 persen yoy menjadi Rp71,30 triliun.
Baca juga: Maybank Indonesia Siap Luncurkan Green Bond
Sementara itu, kredit CFS non-ritel tumbuh 1,7 persen yoy, terutama didukung oleh peningkatan kredit Small and Medium Enterprise (SME+) sebesar 14,4 persen yoy.
Kredit ritel CFS juga tumbuh 3,4 persen yoy, terutama didorong oleh pertumbuhan pembiayaan otomotif melalui anak perusahaan sebesar 6,5 persen yoy, seiring bergairahnya kembali pasar otomotif Indonesia. Serta, lini bisnis kartu kredit dan KTA tumbuh 11,2 persen yoy.
Dana Murah Meningkat, Laba Tumbuh Dua Digit
Lalu dari sisi simpanan nasabah tumbuh 8,2 persen yoy menjadi Rp124,10 triliun, didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 22,4 persen yoy sehingga semakin memperkuat komposisi pendanaan Bank, dengan Giro tumbuh 32,1 persen yoy, dan tabungan tumbuh 4,8 persen.
Di sisi lain, deposito berjangka menurun 10,1 persen yoy, sejalan dengan fokus Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan. Dengan demikian, rasio CASA meningkat menjadi 63,6 persen pada Juni 2026 dari 56,2 persen pada Juni 2025.
Berkat hal itu, laba sebelum pajak atau Profit Before Tax (PBT) meningkat 21,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara yoy menjadi Rp933 miliar.
Peningkatan tersebut didukung oleh penurunan biaya dana sehubungan dengan optimalisasi komposisi pendanaan serta pengelolaan biaya yang berkelanjutan.
Laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali atau Profit After Tax and Minority Interest (PATAMI) meningkat 21,2 persen yoy menjadi Rp698 miliar.
Baca juga: Maybank Group Kucurkan Dana Sosial Rp131,44 Triliun, Jangkau 1,49 Juta Warga ASEAN
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan bahwa kinerja ini mencerminkan kekuatan bisnis inti perbankan Perseroan, serta pelaksanaan prioritas strategis secara disiplin di tengah kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar domestik.
“Ke depan, kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan di segmen korporasi dan UKM sejalan dengan strategi ROAR30, dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang prudent serta menjaga kualitas aset yang sehat,” ucap Steffano dalam keterangan resmi, dikutip, Minggu, 2 Agustus 2026.
Margin Bunga Tetap Terjaga
Adapun pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) meningkat 3,9 persen yoy, didukung oleh penurunan beban bunga. Net Interest Margin (NIM) tercatat sebesar 4,3 persen pada semester I 2026.
Lalu, pendapatan non-bunga atau Non-Interest Income (NOII) menurun 5,4 persen yoy akibat penurunan pendapatan Global Markets (GM) yang terdampak oleh volatilitas pasar dan ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.
Namun demikian, penurunan tersebut telah diimbangi sebagian oleh peningkatan pendapatan fee sebesar 8,0 persen yoy, didorong utamanya oleh peningkatan pendapatan fee dari Wealth 39,0 persen, pembiayaan otomotif 27,5 persen, dan layanan perbankan ritel 54,3 persen.
Baca juga: Aset Dekati Rp50 Triliun, UUS Maybank Indonesia Bidik Spin Off Tahun Depan
Gross Operating Income (GOI) meningkat 1,9 persen yoy menjadi Rp4,64 triliun. Beban operasional tetap terkelola dengan baik dan meningkat hanya sebesar 0,8 persen yoy sehubungan dengan upaya berkelanjutan Bank dalam mengoptimalkan biaya operasional.
Laba operasional sebelum pencadangan meningkat 4,7 persen yoy menjadi Rp1,29 triliun, sementara beban pencadangan membaik sebesar 19,0 persen yoy.
Kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,1 persen dan 1,3 persen nett pada Juni 2026, dibandingkan dengan 2,4 persen NPL gross dan 1,5 persen NPL nett pada Juni 2025. Total aset tumbuh 15,6 persen yoy menjadi Rp213,81 triliun. (*)
Editor: Yulian Saputra


