Poin Penting
- Dirut PT Reasuransi Maipark Indonesia menilai predatory pricing masih marak di industri asuransi akibat perang tarif premi
- Lemahnya manajemen risiko membuat perusahaan terus memangkas tarif demi merebut pasar
- Industri asuransi mulai memperkuat manajemen risiko untuk menekan persaingan tidak sehat.
Jakarta – Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia, Kocu Andre Hutagalung, angkat suara terkait masih maraknya perilaku predatory pricing dalam industri asuransi. Menurutnya, praktik tersebut dipicu oleh persaingan tarif yang tak sehat.
“Menurut kami, predatory asuransi hari ini praktis itu masih terjadi di semua kelas asuransi,” ujar Kocu, kepada Infobanknews, dikutip Senin, 11 Mei 2026.
Ia menjelaskan, bisnis asuransi sendiri merupakan bisnis berbasis probabilitas. Dalam praktiknya, ada yang menyebut asuransi sebagai “managing probability” dan sebagian ada yang menyebutnya “monetizing probability”.
Meski begitu, sifat subjektif dari asumsi serta perhitungan risiko menjadikan industri asuransi rentan terhadap perilaku predatory.
Baca juga: Kinerja Maipark 2025 Tumbuh di Atas Industri, Perkuat Cadangan Risiko Gempa
“Sifat subjektif dari asumsi dan kemungkinan yang digunakan sangat mudah membuat kita jatuh kepada perilaku predatory,” ujarnya,
Ia menilai, praktik predatory saat ini masih terjadi di hampir seluruh kelas asuransi. Salah satu penyebabnya adalah penerapan manajemen risiko yang belum optimal di sejumlah perusahaan.
Menurutnya, perusahaan dengan sistem manajemen risiko yang baik bakal mampu mengetahui batas bawah tarif premi yang masih aman secara bisnis.
Dengan begitu, perusahaan tak akan terus menurunkan harga hanya demi memenangkan pasar.
“Manajemen risiko yang baik itu akan segera memberitahu perusahaan apakah rate-nya itu sudah terlampau rendah atau tidak,” jelasnya.
Baca juga: MAIPARK Ungkap Tantangan Penerapan Skema Asuransi Bencana Alam
Kocu pun menggambarkan praktik predatory tersebut sebagai perang harga antar perusahaan.
“Predatory itu misalnya, dia (perusahaan lain) kasih tarif 5, lalu ada perusahaan yang kasih tarif 4. Lalu, ada yang kasih tarif 3. Jadi, predatory terus,” bebernya.
Meski begitu, Kocu menilai bahwa industri asuransi di Tanah Air kini telah berbenah, khususnya dalam penguatan manajemen risiko.
Meski diakuinya bahwa kondisi tersebut belum maksimal, tetapi sudah menunjukkan perbaikan signifikan dibanding sebelumnya.
Ia menegaskan, pada akhirya perilaku predatory menciptakan persaingan tidak sehat di antara pelaku industri, yang saling “memangkas” tarif demi merebut pasar.
“Iya, saling caplok-caplok gitu,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


