Poin Penting
- Maipark mencatat profitabilitas di atas 20 persen pada 2025, melampaui rata-rata industri reasuransi.
- Kinerja Maipark ditopang cadangan premi kuat hingga 80 persen dari net premi serta penguatan manajemen risiko.
- Maipark menilai industri reasuransi perlu memperkuat manajemen risiko dan kapasitas reasuransi untuk keluar dari perang tarif.
Jakarta — Di tengah tekanan industri asuransi dan reasuransi global, PT Reasuransi Maipark Indonesia mencatat kinerja solid pada 2025. Perseroan mengklaim mampu membukukan profitabilitas di atas rerata industri dengan rasio lebih dari 20 persen.
Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia Kocu Andre Hutagalung membeberkan, perolehan tersebut disokong oleh penguatan manajemen risiko serta strategi pengelolaan modal yang lebih konservatif.
“Di sepanjang tahun 2025. Kita bersyukur Maipark berhasil mendapatkan pertumbuhan yang lebih besar, lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata industri dengan profitabilitas rasio itu besar dari 20 persen,” ujar Kocu dalam acara bertajuk Maipark Award 2026, di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, penguatan fundamental Maipark terlihat dari besaran cadangan premi yang menembus sekitar 80 persen dari net premi. Angka ini dinilai cukup tinggi, terutama untuk perlindungan risiko tahunan semisal gempa bumi di Tanah Air.
Baca juga: MAIPARK Ungkap Tantangan Penerapan Skema Asuransi Bencana Alam
“Cadangan premi Maipark sangat kuat mencapai 80 persen dari net premi. Itu sangat tinggi untuk risiko-risiko anual seperti gempa bumi yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Ia bilang, dalam menghitung cadangan teknis dan alokasi modal perusahaan sendiri menggunakan pendekatan kuantitatif. Tepatnya, menggunakan metode value at risk dengan confidence level 99,6 persen. Sementara, capital allocation memakai economic capital dengan tingkat keyakinan 99,5 persen.
Selain mencatat pertumbuhan bisnis, Maipark juga meraih kenaikan peringkat (rating) dua notch dalam periode tiga tahun terakhir, yakni pada 2023 dan 2025. Pencapaian itu dinilai jarang terjadi di industri reasuransi Tanah Air.
“Ini semua adalah hasil kerja dari insan Maipark, baik dari BOD dan BOC Maipark sebelumnya yang hebat serta dukungan dari regulator sejak Maipark lahir sampai hari ini,” bebernya.
Di lain sisi, Kocu juga menyoroti praktik perang tarif yang memang sempat terjadi di industri asuransi umum dan reasuransi global. Ia menilai, kompetisi yang terlalu agresif berisiko menciptakan perilaku predator dalam industri reasuransi.
Baca juga: Ada 45 Perusahaan Asuransi Syariah Siap Beroperasi di 2027
Ia mencontohkan soal tarif premi properti untuk gedung tinggi di Jakarta yang sempat berada di level rendah hingga nyaris tak mencerminkan risiko sebenarnya.
“Kita selalu dulu menggunakan kalimat ini, rate 0,07 James Bond untuk gedung tinggi yang ada di Jakarta. Tapi kecilnya, hampir gratis. Kemudian kita ingat bagaimana cover business interruption sebagian besar dari kita tahu itu asalnya cuma 50 persen dari cover property damage naik menjadi 100 persen. Ini adalah situasi perilaku predator,” tandasnya.
Meski begitu kata Kocu, kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir terjadi di semua pasar di dunia. Namun, pembedanya yakni hasil respon. Market-market asuransi umum dan reasuransi yang berhasil keluar dari perangkap ini selalu memiliki respon yang sama, yaitu ada dua.
“Pertama adalah mempercepat adopsi manajemen risiko kuantitatif dan yang kedua memperkuat reasuransi agar mampu menyediakan kapasitas yang sehat,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


