Poin Penting
- Manulife melihat ketidakpastian global masih tinggi akibat gangguan rantai pasok dan mahalnya harga komoditas.
- Konflik Timur Tengah membuat sejumlah bank sentral tetap hawkish untuk menahan risiko inflasi.
- Diversifikasi aset dinilai penting, dengan peluang pada aset berkualitas, komoditas AI, dan obligasi jangka pendek.
Jakarta – Manulife Investments menyoroti kondisi makroekonomi global masih sangat dipengaruhi oleh lamanya gangguan rantai pasok global dan tingginya harga komoditas, serta normalisasi pada jalur energi dan pengiriman barang masih belum pasti memasuki semester II tahun 2026.
Senior Global Macro Strategist Manulife Investments, Yuting Shao, menyampaikan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah berdampak pada perubahan arah kebijakan bank sentral global.
Ia menyebut, ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi.
Baca juga: DBS Beberkan Strategi Diversifikasi Portofolio Aset di Tengah Ketidakpastian Global
“Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat, atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi, terbukti jauh lebih resilien,” ucap Shao dalam keterangan resmi dikutip, 15 Juli 2026.
Di samping itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment, Luke Browne, menilai bahwa kondisi makro yang semakin tidak merata semakin memperkuat kebutuhan terhadap alokasi aset yang selektif dan terdiversifikasi.
Browne menyampaikan, dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, pihaknya mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset.
Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif.
“Kami memperkirakan kepemimpinan pasar saham akan meluas, tidak lagi hanya bertumpu pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan artificial intelligence (AI), tetapi juga ke segmen aset berkualitas tinggi dan valuasi pasar yang menarik,” ujar Browne.
Baca juga: Hadapi Lanskap Risiko Global, OJK Dorong IJK Perkuat GRC
Adapun, menurutnya menjaga pendekatan multi-asset yang seimbang akan menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas geopolitik dan valuasi, sekaligus menangkap peluang secara selektif di pasar global, seiring Asia yang terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan struktural dan tema investasi terkait AI.
“Kami juga melihat dukungan bagi aset riil tertentu, termasuk komoditas yang terkait dengan pengembangan infrastruktur AI, serta peluang pada instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Pada saat yang sama, kami lebih menyukai obligasi berdurasi pendek untuk membantu mengelola risiko suku bunga,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama


