Jakarta — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meyakini penyaluran kredit perbankan masih memiliki potensi besar, sehingga nantinya diharapkan kredit perbankan dapat tumbuh double digit. Potensi tersebut sejalan dengan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki rekening di bank.
Kepala Eksekutif LPS. Fauzi Ichsan mengatakan, saat ini simpanan masyarakat yang ada di bank masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal, kata dia, jika tingkat kesadaran masyarakat tinggi akan pentingnya simpanan di bank, maka akan mendorong penyaluran kredit bank.
“Potensi kredit di perbankan masih sangat tinggi dan tentunya harus didukung oleh mobilisasi simpanan masyarakat. Saat ini mobilisasi simpanan di bank masih sangat rendah,” ujar Fauzi di Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017.
Berdasarkan data LPS, total rekening simpanan per Agustus mencapai 227.069.520 rekening atau naik 2,07 persen bila dibandingan posisi jumlah rekening Juli 2017 yakni 222.462.654 rekening. Untuk simpanan dengan nilai saldo sampai Rp2 miliar, jumlah rekeningnya meningkat sebesar 2,07 persen (MoM) menjadi 226.823.420 rekening di Agustus 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Meski demikian, kata dia, sejauh ini prospek perbankan nasional ke depan masih sangat positif. Terlebih, dengan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate yang sudah diturunkan sebanyak delapan kali menjadi 4,25 persen, tentu diharapkan bakal direspon perbankan dan mendorong penyaluran kredit.
“Dengan rendahnya suku bunga di global dan domestik maka kita melihat ekonomi akan tetap terdorong. Suku bunga kita saat ini berada di 4,25 persen, intinya pelaku pasar melihat bahwa likuiditas global diperkirakan tetep ample. Perbankan kita prospeknya juga sangat positif,” ucap Fauzi.
Menurutnya, suku bunga acuan BI akan tetap stabil pada angka 4,25 persen hingga akhir tahun ini. Tertutupnya ruang untuk diturunkannya kembali suku bunga acuan, terkait dengan dengan tren perbaikan kondisi makroekonomi di dalam negeri, dan juga untuk mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga AS di akhir tahun.
“Ketidakpastian sudah menurun. Suku bunga global diperkirakan tetap rendah. Suku bunga kita juga diperkirakan tetap stabil, investasi di pasar modal juga prospeknya tetap masih kuat, ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi daya tarik investor,” tutup Fauzi. (*)




