Poin Penting
- LPS menargetkan sekitar 2 juta masyarakat yang belum memiliki rekening dapat membuka rekening setiap tahun
- LPS juga mendorong pengendalian rekening dormant untuk mencegah rekening yang tidak aktif disalahgunakan untuk aktivitas yang tidak baik
- Literasi penjaminan LPS masih menjadi tantangan, terutama di Lampung yang tingkat pengetahuan terhadap LPS baru 46,31 persen, di bawah rata-rata nasional 62,51 persen.
Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan sekitar 2 juta masyarakat yang sebelumnya belum memiliki rekening dapat mulai memiliki rekening per tahun.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya LPS mendorong inklusi dan literasi keuangan di tengah masih adanya kesenjangan antara keduanya.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution mengatakan, kegiatan literasi keuangan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai industri keuangan dan pentingnya memiliki rekening.
“Kita diminta untuk menaikkan tingkat jumlah orang yang tidak punya rekening, itu per tahun kita mau kurang lebih 2 juta. Menjadi 2 juta menjadi punya rekening,” ujar Farid di sela-sela acara Lampung Finansial Festival 2026 di Lampung, 6 September 2026.
Baca juga: LPS Buka Opsi Investor Relation untuk Perkuat Industri BPR
Dia melanjutkan, saat ini masih ada 15,3 juta masyarakat di usia produktif yang belum memiliki rekening perbankan. Dengan kegiatan literasi, LPS membidik jumlah tersebut dapat ditekan hingga ke 13 juta.
“Sekarang ini kan masih ada 15 jutaan ya (yang belum punya rekening), jadi harapannya tahun depan tinggal 13 jutaan yang belum punya rekening,” tambahnya.
Selain itu, Farid mengatakan LPS juga akan mengendalikan jumlah rekening yang sudah tidak aktif. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah rekening dormant disalahgunakan untuk aktivitas yang tidak baik.
“Orang-orang sudah punya rekening, tapi nggak aktif. Kita minta supaya itu dikendalikan, karena itu bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak baik,” ujarnya.
Tantangan Literasi Keuangan
Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang terakhir dilakukan LPS bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi terhadap penjaminan secara rata-rata nasional itu 62,51 persen.
Salah satu wilayah dengan tingkat literasi pengetahuan mengenai LPS di bawah rata-rata nasional adalah Lampung. Literasi pengetahuan terhadap LPS di wilayah tersebut baru mencapai 46,31 persen, sedangkan pengetahuan terkait tabungannya dijamin baru 58 persen.
Diakui Farid, ada sejumlah tantangan dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Tidak hanya berkaitan dengan akses teknologi, tetapi juga kondisi geografis masyarakat. Meski masyarakat, termasuk generasi Z, semakin dekat dengan perangkat digital, pemanfaatannya belum selalu diarahkan untuk meningkatkan pemahaman keuangan.
“Yang paling terberat adalah pertama soal geografis. Meskipun ada kemudahan di teknologi, di gadget, tapi Gen Z ini kan kita tahu scrollnya lebih sering di TikTok, di IG,” katanya.
Baca juga: Jurus LPS Genjot Literasi Keuangan Generasi Muda
Karena itu, LPS lewat kegiatan Lampung Finansial Festival 2026, memadukan kegiatan edukasi secara langsung atau offline dengan kanal digital.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat informasi mengenai keuangan lebih mudah melekat sekaligus menjangkau masyarakat yang selama ini telah memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi belum memahami manfaat dan risikonya secara mendalam.
“Minimal mereka jadi tahu. Yang sudah tahu jadi lebih tahu, yang belum tahu jadi tahu,” ujarnya. (*)


