Poin Penting
- Libya resmi menghubungkan bank-bank komersialnya ke sistem pembayaran CIPS milik China.
- CIPS memungkinkan transaksi yuan secara langsung sehingga mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
- Kerja sama juga mencakup transfer langsung, surat kredit, dan penguatan kolaborasi perbankan kedua negara.
Jakarta – Libya resmi bergabung dengan sistem pembayaran lintas batas China. Langkah ini menjadi upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS sekaligus memperkuat hubungan perdagangan kedua negara.
Kesepakatan dicapai antara Gubernur Bank Sentral Libya, Naji Mohammed Issa, dan Gubernur Bank Rakyat China, Pan Gongsheng. Pertemuan berlangsung di Beijing saat kunjungan resmi Issa pada Jumat (17/7/2026).
Selain membahas sistem pembayaran, kedua pihak meninjau perkembangan perdagangan bilateral. Mereka juga menyepakati langkah untuk memperluas kerja sama ekonomi dan keuangan.
Baca juga: BI Perkuat LCT demi Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Libya Terhubung ke Sistem Pembayaran China
Dalam pernyataannya, Bank Sentral Libya menyebut bank-bank komersial negara itu akan dihubungkan ke Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).
Sistem tersebut akan mempermudah transfer dana dan mempercepat penyelesaian transaksi lintas negara.
“Pentingnya meluncurkan fase baru kemitraan strategis sejati antara kedua bank sentral dibahas. Disepakati untuk menghubungkan bank-bank komersial Libya ke Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas China, CIPS, yang akan menyederhanakan transfer keuangan dan membuatnya lebih mudah dilakukan,” demikian pernyataan Bank Sentral Libya, seperti dikutip dari Antara.
CIPS diluncurkan Bank Rakyat China pada 2015. Sistem itu mendukung transaksi internasional menggunakan mata uang yuan.
Melalui CIPS, pembayaran dapat diproses langsung antarbank. Mekanisme ini mengurangi kebutuhan transaksi melalui bank perantara berbasis dolar AS.
Perdagangan Bilateral Didorong Lebih Efisien
Kerja sama Libya dan China juga mencakup penyelesaian berbagai hambatan perdagangan. Kedua negara ingin meningkatkan nilai transaksi melalui prosedur yang lebih sederhana.
Tahap awal akan dimulai dengan layanan transfer uang langsung ke China. Fasilitas itu ditujukan untuk mempermudah transaksi para pedagang berskala kecil.
Kedua pihak juga sepakat membuka fasilitas surat kredit secara langsung melalui bank-bank China. Skema ini diharapkan mempercepat pembiayaan perdagangan bilateral.
Baca juga: Koster Tegaskan Bali Wajib Terlibat dalam Pusat Keuangan Internasional
Kerja Sama Perbankan Akan Diperluas
Bank Sentral Libya akan mengirim delegasi resmi ke Beijing. Delegasi dipimpin gubernur bank sentral bersama para direktur bank komersial.
Kunjungan itu bertujuan memperkuat hubungan antarlembaga perbankan kedua negara. Libya juga akan mempelajari pengalaman China dalam pembayaran elektronik dan transfer dana langsung.
Bank Sentral Libya menilai langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan pada pasar informal.
Kebijakan ini juga memperkuat kepatuhan terhadap standar anti-pencucian uang, pencegahan pendanaan terorisme, serta meningkatkan reputasi sektor perbankan Libya. (*)
Editor: Yulian Saputra


