Poin Penting
- Bank Mandiri Taspen optimistis naik ke KBMI 3 pada 2028 secara organik, didukung pertumbuhan laba dan penguatan modal inti tanpa perlu rights issue
- CAR Bank Mantap telah melampaui 30 persen, jauh di atas rata-rata industri, sementara mayoritas laba ditahan untuk memperkuat permodalan dan mendukung ekspansi
- Laba ditargetkan terus meningkat dari Rp1,58 triliun pada 2025 menjadi sekitar Rp2,5 triliun dalam beberapa tahun ke depan, sehingga modal inti diproyeksikan menembus syarat minimum KBMI 3.
Bali – PT Bank Mandiri Taspen optimistis pada 2028 mampu naik kelas ke Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KMBI) 3 dengan modal di kisaran Rp14 triliun hingga Rp70 triliun.
Keyakinan tersebut ditopang oleh penguatan permodalan yang terus tumbuh secara organik seiring peningkatan laba perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
Agus Syaiful Anwar, Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mandiri Taspen menjelaskan, tren kinerja positif Bank Mantap dalam beberapa tahun terakhir telah membuat perseroan tidak lagi bergantung pada tambahan modal dari pemegang saham melalui rights issue.
“Pada 2017 laba Bank Mantap masih sekitar Rp50 miliar sehingga saat itu ekspansi masih membutuhkan dukungan modal dari pemegang saham, yakni Bank Mandiri dan Taspen. Namun sejak 2020 hingga sekarang, kebutuhan modal sudah bisa dipenuhi secara organik,” ujar Agus dalam Media Gathering di Mantap Learning Center, Bali, 4 Juli 2026.
Baca juga: Jurus Bank Mantap Tekan Cost of Fund di Era Suku Bunga Tinggi
Menurutnya, kemampuan menghasilkan modal secara internal tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Mantap yang telah melampaui 30 persen.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional yang berada di kisaran 18-20 persen maupun ketentuan minimum regulator sekitar 10-12 persen.
“Jadi kita sebenarnya sudah beyond secara permodalan. CAR kami sudah di atas 30 persen, sehingga ruang untuk ekspansi masih sangat besar,” jelasnya.
Agus menambahkan, strategi perseroan dalam mempercepat pertumbuhan modal juga didukung kebijakan pembagian dividen yang konservatif.
Dari laba bersih 2025 yang mencapai Rp1,58 triliun, dividend payout ratio Bank Mantap hanya membagikan sekitar 10 persen kepada para pemegang saham.
“Jadi memang sisanya kita putar lagi dalam bentuk modal ditahan,” jelasnya.
Lebih jauh, Agus mengatakan perseroan juga membidik pertumbuhan laba yang lebih tinggi. Bank Mantap menargetkan laba meningkat menjadi sekitar Rp1,7 triliun pada 2026, kemudian Rp2 triliun pada tahun berikutnya, hingga Rp2,5 triliun setelahnya.
Baca juga: Bank Mantap Dorong Perilaku Hijau di Lingkungan Pendidikan
Dengan tren tersebut, ia menegaskan Bank Mantap sangat optimistis dapat memenuhi persyaratan modal inti KBMI 3 pada 2028 tanpa harus melakukan penambahan modal dari pemegang saham.
“Kami masih sangat confidence bisa naik kelas ke KBMI 3 pada 2028 dengan cara organik,” tutup Agus.
Saat ini modal inti Bank Mantap telah mencapai sekitar Rp10 triliun masuk kategori KBMI 2. Adapun syarat minimum untuk masuk kategori KBMI 3 adalah modal inti sebesar Rp14 triliun. (*)


