Poin Penting
- BRI rutin melakukan stress test untuk mengukur ketahanan bank terhadap risiko ekonomi domestik dan global dengan berbagai skenario
- Parameter uji mencakup harga minyak, pertumbuhan ekonomi, inflasi, BI-Rate, nilai tukar dolar AS, hingga yield sebagai dasar proyeksi ke depan
- BRI optimistis ekonomi membaik di semester II 2026 jika harga minyak terkendali ≤USD100/barel, dan tetap siap dengan skenario pesimistis karena modal serta likuiditas dinilai masih memadai.
Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan telah melakukan sejumlah stress test untuk mengevaluasi secara berkala terhadap ketahanan bank di tengah potensi risiko dalam menghadapi ketidakpastian perekonomian domestik maupun global.
Direktur Risk Management BRI, Ety Yuniarti mengatakan, BRI mengunakan berbagai parameter dalam melakukan stress test antara lain, harga minyak dunia, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga acuan alias BI-Rate, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), hingga imbal hasil (yield).
“Jadi parameter-parameter tersebut kita gunakan untuk meng-set asumsi-asumsi ke depan,” ujar Ety dalam konferensi pers Kinerja Kuartal I 2026, Kamis, 30 April 2026.
Baca juga: Saham BBRI Anjlok ke Level Terendah sejak 2021, Ini Kata BRI
Ety optimistis kondisi perekonomian akan membaik di semester II 2026. Menurutnya, hal ini didukung oleh harga minyak yang sudah diproyeksikan membaik di kuartal III 2026.
“Sejauh ini kami ekspektasi bahwa di semester II kondisi akan membaik, karena kami melihat harga forward di oil price sendiri sudah di ekspektasikan membaik di kuartal III,” jelasnya.
Meski demikian, optimisme tersebut terjadi apabila harga minyak dunia rata-rata selama 2026 tidak melebihi USD100 per barel.
Baca juga: Bos BRI Beberkan Strategi Jaga Kualitas Kredit UMKM di Tengah Dinamika Global
Namun, jika harga minyak melebihi rata-rata tersebut, BRI juga telah melakukan asumsi pada level pesimistik di sisi stress test yang mana hasilnya posisi permodalan maupun likuiditas perseroan masih relatif memadai.
“Tetapi kalau misalnya iya, kami pun sudah melakukan asumsi pesimistik di sisi stress test, dan insya Allah dari sisi posisi pemodalan dan likuiditas masih relatif memadai. Jadi untuk menyerap potensi tekanan yang mungkin terjadi apabila oil price sampai dengan USD100,” tegasnya. (*)
Editor: Galih Pratama




