Poin Penting
- Laba bersih WIKA Beton kuartal I 2026 turun 5,56 persen yoy menjadi Rp1,50 triliun, seiring penurunan pendapatan dari Rp871,59 triliun menjadi Rp677,03 triliun
- Kinerja tetap terjaga lewat efisiensi, penguatan margin, dan kesehatan arus kas, ditopang diversifikasi bisnis dengan kontribusi terbesar dari produk putar (48,36 persen)
- Kontrak baru mencapai Rp919,9 miliar, didominasi sektor swasta (53,61 persen) dan sektor infrastruktur sebagai penyumbang utama (58,72 persen).
Jakarta – PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau WIKA Beton membukukan laba bersih senilai Rp1,50 triliun di kuartal I 2026. Angka tersebut turun sekitar 5,56 persen secara tahunan dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp1,58 triliun.
Penurunan laba WIKA Beton dipicu oleh penurunan pendapatan perseroan. Hingga Maret 2026, pendapatan perseroan turun menjadi Rp677,03 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp871,59 triliun.
Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, Ignatius Harry, menyatakan bahwa performa di awal tahun 2026 ini merupakan hasil dari konsistensi perusahaan dalam penguatan margin dan menjaga kesehatan arus kas.
“Perolehan laba perusahaan ini menjadi bukti bahwa program efisiensi dan deleveraging yang kami jalankan telah memberikan hasil yang optimal. Kami tidak hanya fokus pada pertumbuhan omzet, tetapi juga pada penguatan margin dan kesehatan arus kas,” ucapnya dalam keterangan resmi dikutip, 30 April 2026.
Baca juga:
Ia menjelaskan, stabilitas tersebut juga didorong oleh diversifikasi lini bisnis yang efektif dari segmen produk putar sebagai kontributor utama sebesar 48,36 persen, disusul produk non-putar sebesar 32,84 persen, konstruksi sebesar 15,85 persen, dan jasa sebesar 2,95 persen.
“Diversifikasi tersebut memperkuat posisi strategis WIKA Beton di berbagai segmen,” imbuhnya.
Kontrak Baru WIKA Beton
WIKA Beton mencatat perolehan kontrak baru yang mencapai Rp919,9 miliar, angka itu didominasi oleh pelanggan dari pihak swasta sebesar 53,61 persen, disusul oleh kemitraan strategis (KSO/JO) sebesar 34,00 persen, BUMN sebesar 11,23 persen, dan WIKA sebesar 1,16 persen.
Baca juga:
Kontrak baru yang didominasi dari swasta menandakan kemandirian bisnis WIKA Beton yang semakin kuat di luar ekosistem induk usaha.
Berdasarkan sektornya, infrastruktur tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 58,72 persen, diikuti oleh sektor industri 17,49 persen, properti 12,17 persen, pertambangan 5,77 persen, kelistrikan 4,89 persen, dan energi 0,96 persen. (*)
Editor: Galih Pratama




