Laba sebelum pajak perbankan syariah Maybank Indonesia meningkat dari Rp6 miliar di Juni 2024 menjadi Rp315 miliar di Juni 2025. Lonjakan laba ini seiring dengan biaya provisi yang menurun.
Raihan laba tersebut juga ditopang pendapatan setelah distribusi bagi hasil (Net Interest Income/NII) yang meningkat sebesar 18,2 persen, dan pendapatan operasional lainnya (Fee-based Income) tumbuh 20,7 persen menjadi Rp122 miliar didukung pendapatan dari Shariah Wealth Management, asset recovery, dan biaya simpanan nasabah.
Dari sisi pembiayaan, pembiayaan ritel dan non-ritel CFS Maybank Indonesia tumbuh 14,5 menjadi Rp21,44 triliun.
Selanjutnya, pembiayaan non- ritel juta meningkat 18,8 persen, ditopang pertumbuhan segmen Business Banking sebesar 20,0 persen, SME+ sebesar 13,7 persen, dan RSME sebesar 19,5 persen. Kemudian, pembiayaan ritel meningkat 9,9 persen, didukung pertumbuhan pembiayaan pemilikan rumah sebesar 9,6 persen dan pembiayaan otomotif sebesar 12,0 persen.
Dari sisi funding, giro dan tabungan (CASA) perbankan syariah Maybank Indonesia meningkat 15,6 persen, sedangkan deposito berjangka turun 18,2 persen, sejalan dengan strategi bank untuk mengoptimalkan struktur pendanaan yang efisien. Simpanan nasabah tetap stabil sebesar Rp34,50 triliun, dan rasio CASA meningkat menjadi 60,0 persen pada Juni 2025 dari 51,5 persen pada Juni 2024.
Kualitas aset Perbankan Syariah tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Rasio Gross Non-Performing Financing/NPF (gross) tetap stabil sebesar 2,4 persen pada Juni 2025 dan 2024, sementara rasio NPF (net) membaik menjadi 1,6 persen pada Juni 2025 dari 1,8 persen pada Juni 2024.









