Poin Penting
- Laba Bank Sampoerna mencapai Rp15,9 miliar pada semester I 2026, tumbuh 41,29% yoy dari Rp11,2 miliar
- Pembiayaan UMKM mencapai sekitar Rp6,2 triliun atau hampir 60 persen dari total kredit, dengan Rp5,5 triliun disalurkan langsung dan Rp628,8 miliar melalui mitra
- Kualitas kredit dan likuiditas terjaga, tercermin dari NPL gross UMKM 3,57 persen, CASA Rp2,6 triliun, dan LDR 87,93 persen.
Jakarta – PT Bank Sahabat Sampoerna atau Bank Sampoerna hingga semester I 2026 berhasil membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp15,9 miliar. Angka ini tumbuh 41,29 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu Rp11,2 miliar.
Direktur Finance and Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan kenaikan laba bersih tersebut ditopang penyaluran pembiayaan yang solid. Terutama pembiayaan yang ditujukan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Hampir 60 persen dari total kredit atau sekitar Rp6,2 triliun sampai dengan akhir Juni tahun ini telah disalurkan kepada sejumlah pelaku UMKM,” jelas Henky dikutip 27 Agustus 2026.
Kredit disalurkan secara langsung kepada pelaku UMKM dengan total penyerapan mencapai Rp5,5 triliun.
“Di samping itu, penyaluran secara tidak langsung melalui jaringan mitra, seperti perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura, turut menyumbang sebesar Rp628,8 miliar,” tambah Henky.
Baca juga: Bank Sampoerna Bukukan Laba Rp8,9 Miliar di Kuartal I 2026, Melonjak 68 Persen
Hingga akhir Juni 2026, Bank Sampoerna mencatatkan total penyaluran pembiayaan Rp10,6 triliun, yang sebagian besar disumbang oleh segmen wholesale business.
Di saat yang sama, Bank Sampoerna terus memperkuat jangkauan pembiayaan ritel lewat PDAja.com yang menghadirkan fleksibilitas bagi nasabah untuk menarik dana sesuai kebutuhan dan hanya membayar bunga atas plafon yang terpakai, baik untuk pengembangan usaha maupun keperluan pribadi.
Kualitas penyaluran kredit juga terjaga. Ini tercermin dari rasio non performing loan (NPL) gross UMKM sekitar 3,57 persen, masih di bawah ambang batas regulator di level 5 persen.
Henky menambahkan salah satu keberhasilan dalam penyaluran kredit perusahaan karena ketersediaan likuiditas yang cukup. Ini tercermin dari penghimpunan dana murah (CASA) dari giro dan tabungan mencapai Rp2,6 triliun.
Baca juga: BI Catat Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen di Juli 2026
Pencapaian tersebut memperkuat neraca perusahaan dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) berada pada tingkat 87,93 persen.
“Prioritas utama kami adalah menjaga keseimbangan antara pengelolaan risiko dan tingkat kepercayaan masyarakat hingga akhir tahun. Melalui pendekatan yang hati-hati namun terukur, kami berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas bisnis sekaligus menjaga akses pembiayaan bagi pelaku UMKM,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama


