Poin Penting
- PT Bank Jago Tbk membukukan laba Rp86 miliar pada Q1 2026, tumbuh 42% YoY.
- Jumlah nasabah mencapai 19,4 juta, mendorong DPK naik 23% menjadi Rp26,4 triliun.
- Kredit tumbuh 24% YoY dengan NPL rendah 0,8%, mencerminkan ekspansi yang tetap prudent.
Jakarta – PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026, didorong oleh pertumbuhan nasabah dan penguatan ekosistem digital.
Hingga akhir kuartal I-2026, Bank Jago melayani 19,4 juta nasabah, termasuk 15,2 juta pengguna Aplikasi Jago. Jumlah tersebut meningkat lebih dari 3 juta nasabah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan pertumbuhan nasabah, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 23 persen secara tahunan menjadi Rp26,4 triliun dari Rp21,4 triliun.
Komposisi DPK didominasi dana murah (CASA) sebesar 53 persen atau Rp13,9 triliun, sementara deposito mencapai 47 persen atau Rp12,5 triliun.
Baca juga: Pengguna Jago Terhubung Bibit-Stockbit Tembus 3 Juta, Investasi Naik 80 Persen
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris mengatakan, peningkatan DPK ini menunjukkan nasabah semakin banyak dan percaya untuk memanfaatkan produk dan layanan Bank Jago sebagai bagian dari pengelolaan keuangan mereka.
“Kini Aplikasi Jago bukan sekadar tempat untuk menabung dan bertransaksi, tetapi sudah menjadi tempat untuk menumbuhkan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh,” ujar Harris, dikutip Jumat, 24 April 2026.
Kredit Tumbuh, Risiko Tetap Terkendali
Dari sisi intermediasi, penyaluran kinerja Bank Jago sebesr 24 persen yoy menjadi Rp25,2 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp20,3 triliun.
Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, Bank Jago tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal ini tecermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang terjaga di level 0,8 persen, lebih rendah dari rata-rata industri.
Baca juga: Jurus Bank Jago Dorong Perempuan Bicara Keuangan pada Peringatan Hari Ibu
Laba Melonjak
Dari sisi profitabilitas, laba bersih setelah pajak tercatat Rp86 miliar atau naik 42 persen dibandingkan Rp60 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Total aset juga meningkat 22 persen menjadi Rp39,5 triliun dari Rp32,5 triliun. Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 29,9 persen dan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 95 persen, mencerminkan likuiditas dan permodalan yang solid.
“Pencapaian ini menegaskan komitmen kami sebagai bank berbasis teknologi yang terus mengedepankan inovasi dan kolaborasi, sekaligus fokus pada pengelolaan fundamental kinerja dan manajemen risiko yang kuat,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra








