Poin Penting
- Bank INA membukukan laba bersih Rp52,97 miliar pada kuartal I 2026, melonjak 268,73 persen yoy, ditopang pertumbuhan kredit, DPK, dan aset
- Pendapatan operasional Bank INA naik 58,96 persen yoy menjadi Rp276,64 miliar, sementara pendapatan nonbunga melesat 600,76 persen
- Bank INA fokus memperkuat layanan hybrid digital dan kantor fisik, sembari tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Jakarta – Di awal 2026, PT Bank INA Perdana Tbk (BINA) mampu mencatat pertumbuhan kinerja yang positif. Pada kuartal I 2026, bank milik Salim Group ini mampu mencatat laba bersih Rp52,97 miliar, melesat 268,73 persen year on year (yoy).
Kinerja positif Bank Ina ditopang dari pertumbuhan kredit sebesar 10,35 persen (yoy) jadi Rp14,78 triliun. Sedangkan Dana pihak ketiga (DPK) berada di posisi Rp25,03 triliun, melonjak 21,51 persen (yoy), dan aset naik 26,69 persen (yoy) menjadi Rp31,29 triliun.
Dari sisi neraca keuangan, Bank INA mampu mencatat lonjakan pendapatan operasional selain bunga sebesar 600,76 persen (yoy), menyentuh Rp104,11 miliar. Pendapatan operasional juga meningkat 58,96 persen (yoy) ke posisi Rp276,64 miliar.
Rasio keuangan perusahaan juga terjaga dengan baik. Masing-masing return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) berada di angka 0,84 persen dan 7,16 persen. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BO/PO) juga terjaga di posisi 88,46 persen. Adapun rasio non-performing loan (NPL) gross masih di kisaran 3,13 persen.
Baca juga: Bank INA Resmikan KCP Summarecon Bekasi, Kini Miliki 58 Jaringan Kantor
Meski begitu, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) turun 544 basis poin ke posisi 18,39 persen. Loan to Deposit Ratio (LDR) juga menyentuh 59,03 persen, menunjukkan bahwa banyak dana yang masih belum tersalurkan secara maksimal.
Henry Koenafi, Direktur Utama Bank INA menjelaskan, di tengah kondisi yang menantang ini, Bank INA tetap optimis untuk melayani nasabah, sehingga berdampak positif terhadap kinerja perusahaan.
“Memasuki tahun 2026, Bank INA terus melangkah maju dengan optimisme tinggi untuk menjadi solusi perbankan sesuai kebutuhan para nasabah,” ujar Henry pada Rabu, 13 Mei 2026.
Ke depan, Henry menyebut bahwa fokus Bank INA adalah memberi pelayanan dalam bentuk hybrid, yakni secara digital dan kantor fisik. Menurutnya, model hybrid menjadi ideal untuk menghadirkan pelayanan yang maksimal kepada nasabah.
“Kami yakin bahwa perpaduan antara layanan digital dan kehadiran kantor fisik yang mudah dijangkau adalah kunci untuk memberikan solusi keuangan yang aman, cepat, dan nyaman bagi seluruh segmen nasabah, mulai dari individu hingga korporasi,” jelasnya.
Sementara, Yulius Purnama Junaedi, Wakil Direktur Utama Bank INA, menyebut pertumbuhan perusahaan juga tidak lepas dari banyaknya layanan perbankan yang ditawarkan kepada nasabah.
Lebih jauh dia mengatakan, Bank INA mengeluarkan produk kredit pembiayaan rumah (KPR) serta “pinjaman kasbon”, yang membantu meningkatkan kredit konsumer. Bank INA juga meluncurkan produk simpanan emas, bancinsurrance, dan beragam produk lain untuk meningkatkan simpanan nasabah.
Baca juga: Bank INA Optimistis Kredit Tumbuh 15–20 Persen di 2026, Lampaui Target OJK
“Kami punya produk yang sangat lengkap. Dan boleh dibilang, kalaupun tidak 100 persen tapi (produk) kami sudah 95 persen dibandingkan dengan bank-bank besar lainnya,” bebernya.
Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, Yulius memastikan bahwa perusahaan akan tetap bertumbuh dengan prinsip kehati-hatian, utamanya selektif dalam memilih sektor untuk bertumbuh.
“Kami dalam posisi optimis, tapi juga harus berhati-hati. Karena, kami juga sebagai bank, harus tetap (mengikuti) prinsip kami yang adalah memberikan kredit dengan hati-hati,” tutup Yulius. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


